Jumbonya Ayam Goreng Mbah Cemplung

Masih kuliner edisi Jogja, nih! Salah satu hal yang paling mengesankan bagi saya selama kulineran di Jogja adalah makanannya yang enak dengan rasa yang murah meriah. Sehabis mengunjungi Keraton Jogja, dengan rekomendasi dari bapak supir mobil sewaan kami, kami memilih untuk makan siang di rumah makan Ayam Goreng Mbah Cemplung. Rumah makan Ayam Goreng Mbah Cemplung ini berlokasi di  Desa Kasongan, Bangunjiwo, Kecamatan Bantul.

Ayam Goreng Mbah Cemplung
Ayam Goreng Mbah Cemplung

Untuk mencapai rumah makan Ayam Goreng Mbah Cemplung ini, kami harus melewati sawah-sawah dan jalan-jalan khas pedesaan. Buat saya, ini menjadi bonus tersendiri. Mata saya yang biasanya hanya melihat padatnya lalu lintas dan debu knalpot, kini disuguhi pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Restoran Ayam Goreng Mbah Cemplung ini menempati sebuah bangunan sederhana berdinding plesteran semen. Di halaman parkirnya yang cukup luas Anda bisa melihat beberapa kandang burung. Bahkan saya sempat melihat ada beberapa ekor ayam yang dilepas begitu saja. Tampak pula beberapa batang pohon kelapa yang tinggi menjulang. Ah, tiba-tiba saja saya merasa telah begitu jauh dari kota.

cemplung 2

Jangan terkejut karena sebagian lantai di dalam rumah makan masih beralaskan tanah. Anda bisa memilih, mau duduk di meja dan bangku-bangku panjang, atau duduk lesehan di atas tikar. Kembali, saya dan keluarga memilih duduk di tikar. Tak membuang waktu, kami pun segera memesan. Kami memesan tiga potong ayam goreng yang disajikan dengan dua macam sambal dan lalapan, tempe goreng, dan tentu saja nasi putih. Untuk minumnya, kami memesan air jeruk, teh, dan wedang uwuh. Maafkan fotonya yang agak goyang karena saya sedikit buru-buru karena keponakan saya sudah mulai rewel pengen buru-buru makan. Hahaha.

makan nikmat di Ayam Goreng Mbah Cemplung
makan nikmat di Ayam Goreng Mbah Cemplung

Komentar pertama kami saat melihat ayam goreng pesanan kami datang adalah: buset, gede amat! Serius, ukuran tiga potong ayam goreng Mbah Cemplung ini hampir sama besarnya dengan ayam satu ekor. Rasa-rasanya, ayam negri yang biasa saya santap di rumah pun tak pernah sebesar itu. Setelah mengobrol dengan kerabat di Jogja, barulah lalu saya tahu bahwa tidaklah aneh bila ayam kampung jawa memiliki ukuran sebesar itu. Nah, Ayam Goreng Mbah Cemplung ini menggunakan ayam kampung yang dipelihara warga di sekitar Kasongan. Salah satu syarat ayam yang “lulus Quality Control” di Ayam Goreng Mbah Cemplung adalah ayam kampung yang dilepas-liarkan, bukan yang disimpan di kandang. Berat ayam pun harus antara 1,2 kg – 3,5 kg.

Ayam goreng cemplung berukuran jumbo
Ayam goreng cemplung berukuran jumbo

Jadi, gimana rasanya ayam goreng jumbo Mbah Cemplung? Ketika menyantapnya, saya pun paham mengapa Ayam Goreng Mbah Cemplung ini sangat tenar. Daging ayamnya empuk dan gurih dengan tekstur yang agak berminyak. Saya doyan dengan sambalnya yang tidak terlalu pedas dan bercitarasa manis. Benar-benar bikin makan tambah lahap! Salah satu rahasia yang membuat Ayam Goreng Mbah Cemplung senikmat dan seempuk itu, konon adalah karena daging ayamnya direbus dengan menggunakan bumbu-bumbu rahasia hingga dua kali. Ayam pun direbus dengan menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. Satu hal yang saya temukan, ayam goreng Mbah Cemplung ini bebas dari gajih/lemak. Saat saya mencoba membagi dua potongan ayam goreng saya di antara persendian bagian dada dan paha atas, saya harus mengerahkan sedikit tenaga. Beda banget deh sama ayam broiler!

Lalu mengapa namanya Mbah Cemplung? Rupanya ada sekelumit sejarah di balik kesuksesan Ayam Goreng Mbah Cemplung ini. Ayam Goreng Mbah Cemplung ini sudah buka sejak tahun 1980. Ayam goreng ini terlahir dari tangan seorang nenek sebatang kara yang berasal dari Desa Cemplung. Itulah sebabnya mengapa namanya Mbah Cemplung. Mbah Cemplung ini diberi modal oleh Sadiyo, sang pemilik rumah makan saat ini, untuk berjualan makanan. Tak diduga-duga ayam goreng Mbah Cemplung ini menjadi sangat digemari. Setelah Mbah Cemplung meninggal, resep dan rumah makan ayam goreng ini lalu diwariskan kepada Sadiyo. Dari kisah ini, kita bisa belajar bahwa kita akan menuai kebaikan yang kita tabur. Maka, jangan pernah ragu untuk berbuat baik, yah!

Psst, saat kami pulang dan melewati kasir, kami sempat mendengar ada yang memesan ayam goreng Mbah Cemplung ini 100 ekor. SERATUS EKOR. Asyik! Laris manisss! Oh ya, sepotong ayam goreng di sini dihargai antara Rp 28.000 – Rp 34.000, tergantung ukuran besarnya ayam. Murah meriah deh pokoknya… 🙂 

 

(marchaela)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *