GRATIS Voucher KlikHotel Rp 50.000!


Kalau gratis, saya tidak mau

Berayun di Tengah Laut Gili Trawangan

Siapa yang belum pernah mendengar tentang keeksotisan Gili Trawangan? Di akhir tahun kemarin, bersyukur sekali saya dan keluarga berkesempatan berlibur ke Lombok dan Gili Trawangan. Dari daerah Senggigi (kebetulan saya menginap di daerah Senggigi), kita membutuhkan waktu sekitar 40 menit berkendara untuk sampai pelabuhan untuk menyebrang ke Gili Trawangan. Untuk menyebrang ke Gili Trawangan, ada dua pilihan yang bisa Anda ambil. Pertama, Anda bisa menyebrang dengan kapal umum (warga setempat menyebutnya “publik”) dengan tariff Rp 15.000,00 per orang. Kedua, Anda bisa menyewa kapal cepat atau perahu motor secara private. Pilihan kedua ini jelas lebih mahal namun juga lebih nyaman. Karena saya bersama keluarga, kami memilih opsi kedua. Pelabuhan untuk umum (publik) dan private ini juga berbeda.

Pelabuhan untuk Perahu Motor private

Perahu motor yang kami tumpangi terayun seiring gerakan ombak. Sebaiknya, Anda pergi sepagi mungkin ketika laut masih relatif tenang. Seperti Anda tahu, ada tiga gili yang dapat dikunjungi, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Gili Trawangan terletak di antara Gili Air dan Gili Meno. Kami lalu memilih untuk mengunjungi Gili Trawangan terlebih dulu. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke Gili Trawangan.

Pantai Gili Trawangan

Perairan yang begitu jernih dan hamparan pasir putih bersih menyambut kami tatkala perahu motor yang kami tumpangi merapat. Wow! Suasananya membuat saya langsung ingin nyebur berenang di laut. Tak jauh dari pantai, saya langsung melihat ada jajaran cafe. Kami lalu meninggalkan pantai untuk menyusuri jalanan Gili Trawangan. 

suasana jalanan Gili Trawangan

Suasana hectic langsung terasa begitu kami tiba di jalanan. Di kanan-kiri jalan tampak pertokoan, cafe, kedai penyewaan alat snorkeling, dan kedai lainnya. Turis-turis tampak berjalan hilir-mudik. Turis yang mendominasi Gili Trawangan ini adalah turis asing. Telinga saya lalu mendengar derap kaki kuda dan bunyi klakson. Kami segera merapat ke sisi jalan agar tidak terserempet cidomo. Cidomo ini adalah transportasi utama di Gili Trawangan karena kendaraan bermotor tidak diperbolehkan ada di sini. Cidomo ini adalah singkatan dari cikar-dokar-motor. Bentuknya mirip dengan delman, tapi perbedaannya adalah kereta cidomo ini menggunakan ban mobil.

Cidomonya Ngebut!

Cidomo

Kami lalu berunding sejenak. Itinerary kami hari itu cukup padat sementara hari mulai siang. Ingin hati menyusuri jalanan Gili Trawangan dan pantai-pantainya dengan berjalan kaki. Tapi karena hari sudah mulai siang, untuk menghemat waktu kami memutuskan untuk naik cidomo. Ih, ternyata naik cidomo ini mahal! Tarif satu cidomo sekali jalan adalah Rp 150.000,00! Satu cidomo sendiri maximal hanya bisa dinaiki 5 orang. Saya pribadi tidak terlalu suka naik cidomo. Cidomo-cidomo ini membawa penumpangnya dengan mengebut. Musnahlah harapan untuk bersantai menikmati suasana kanan-kiri jalanan. Yang ada, saya sibuk pegangan erat-erat. Hahaha…Cidomo yang kami naiki membawa kami menyusuri jalan-jalan kecil. Sepanjang perjalanan, saya melihat ada begitu banyak penginapan. Mulai dari hotel yang terlihat mewah hingga guest house sederhana.

Penyewaan Sepeda

Kalau Anda memiliki banyak waktu, saran saya lebih baik Anda berjalan kaki saja. Menyewa sepeda pun bukan opsi hemat di sini. Penyewaan sepeda per jam-nya adalah Rp 70.000,00. Untuk wisatawan asing yang mainannya dolar, mungkin tak terasa mahal. Tapi buat saya,  mendingan jalan kaki aja deh…

 

Berayun di Tengah Laut

Berayun di Tengah Laut

Cidomo yang kami tumpangi lalu mengantarkan kami ke pantai di area Hotel Ombak Sunset. Di tengah laut, tampaklah beberapa ayunan kayu yang begitu cantik. Ayunan-ayunan kayu ini menjadi spot foto favorit di pantai-pantai Gili Trawangan. Saat itu kira-kira pukul sebelas siang dan air laut sudah sampai sebatas bangku ayunan. Jika Anda tak ingin baju Anda basah, Anda datang lebih pagi saat ombak masih surut. Namun, berayun di tengah laut pun menjadi sensasi tersendiri. Celana pendek dan ujung baju saya kebasahan, tapi hati saya senang.

Pantai Hotel Ombak Sunset

Selain ayunan, di sepanjang area pantai Hotel Ombak Sunset ini juga terdapat jajaran kursi pantai dan beanbags. Ada juga area tenda dengan kursi-kursi sehingga kita bisa berteduh. Anyway, ayunan-ayunan ini tak hanya ada di arean Hotel Ombak Sunset. Di pantai-pantai lainnya pun di sepanjang Gili Trawangan pun ada. Bahkan, saya sempat melihat ada ayunan yang berwarna pink Memang akan lebih asyik jika Anda punya waktu seharian atau sekalian menginap di Gili Trawangan ini supaya Anda bisa menyusuri area-area pantai yang ada.

Ketika hari semakin siang dan terik matahari sudah terasa semakin menyengat, kami memutuskan sudah waktunya untuk makan siang. Kembali kami memanggil cidomo untuk kembali ke titik semula. Pokoknya, Anda harus siap-siap harus baca uang tunai cukup banyak saat berada di Gili Trawangan. Anda nggak bisa nyodorin kartu debit Anda ke Abang Cidomo, toh? (just kidding). By the way, Gili Trawangan ini sudah menyediakan cukup banyak fasilitas ATM kok. Hanya memang tak semua Bank ada. Gerai ATM yang saya lihat antara lain adalah BRI, BNI, dan Mandiri.

Green Cafe Gili Trawangan

Ada cukup banyak cafe/resto di Gili Trawangan, namun dari harga-harga yang tertera di papan menu yang dipajang di depan cafe/resto, rata-rata harganya cukup mahal. Kebanyakan makanan yang dijual juga merupakan western food. Tapi tak perlu berkecil hati. Ada satu restoran yang menyediakan makanan Indonesia dengan harga yang cukup terjangkau. Tak tanggung-tanggung, mereka menyediakan menu ramesan. Restoran itu bernama Green Cafe.

Ramesan di Green Cafe Gili Trawangan

Cukup banyak juga wisatawan asing yang  bersantap di Green Cafe ini. Pilihan menu lauknya cukup banyak. Saya memilih menu mie goreng, orak-arik tempe, dan terong balado. Porsi nasinya besar, maka saya memutuskan untuk minta dikurangi setengahnya (tapi harganya tetap dihitung satu porsi). Satu porsi nasi dengan tiga macam sayuran itu dibanderol seharga Rp 25.000,00. Rasa makanannya enak. Lumayan banget jika dibandingkan dengan harga-harga di cafe lain.

Overall, berwisata di Gili Trawangan ini memang sangat menyenangkan. Hanya saja, harga yang mereka tawarkan cukup mahal. Sebagai perbandingan, kelapa muda yang di tempat lain rata-rata dijual seharga Rp 10.000 hingga Rp 15.000, di Gili Trawangan ini dijual seharga Rp 25.000. Bahkan, saya juga sempat melihat bahwa tarif toilet umum di sini adalah Rp 10.000. Wow! Salah satu hal yang saya lihat, tak ada perbedaan harga untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Bisa dibilang, wisata di Gili Trawangan ini adalah wisata dengan harga dollar. So, buat Anda yang ingin berhemat, jangan lupa untuk membawa bekal. Wajib bawa air minum sendiri karena hawa di sini lumayan terik. Jangan malas juga untuk berjalan kaki. Maka, siapkan topi atau payung dan kacamata hitam untuk menahan teriknya matahari.

Sehabis bersantap siang, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu motor yang kami sewa. Next destination: ber-snorkeling di Gili Air. Tunggu cerita saya selanjutnya, ya!

 

(marchaela)

 

Facebook Comment

Related Post

More in cidomo, Gili Trawangan, hotel ombak sunset, lombok, snorkeling
gili di lombok timur
5 Gili di Lombok Timur yang Membuat Ingin Segera Liburan

Bertetangga dengan Bali, Lombok juga menjadi salah satu primadona wisata di Indonesia. Selain memiliki Geopark Rinjani, wisata unggulan di Lombok...

Close