Berkemah di Pantai Bale Kambang, Tanah Lot-nya Malang.

Pantai Bale Kambang, selatan kota Malang.
Pantai Bale Kambang, selatan kota Malang.

Berkemah di gunung sudah biasa. Bagaimana kalau berkemah di pantai? Sepertinya tidak banyak orang yang melakukan ini. Saya dan teman-teman yang suka berpetualang, memutuskan untuk berkemah di Pantai Bale Kambang, selatan kota Malang. Bale Kambang sebenarnya pantai yang sudah terkenal di Malang, tapi kebanyakan orang akan pergi ke pantai hanya pada pagi atau siang hari untuk bermain pasir, berjemur, atau mandi di pantai. Kami? Kami adalah orang-orang "gila" yang tidak terlalu senang dengan keriuhan manusia di tempat wisata, jadi kami memutuskan untuk tidak hanya bermain air di pantai tapi berkemah dari malam hari. Jangan salah, pantai Bale Kambang ini memang ada area perkemahannya. Mengapa Bale Kambang? Mendengarkan deru ombak yang sangat dekat dengan tenda mungkin adalah salah satu pemacu adrenalin tersendiri untuk merasakan akrabnya kami dengan alam.

Dari kota Malang, kami berangkat jam 11 malam. Saya dan teman-teman menggunakan mobil selama 3 jam untuk sampai ke pantai yang letaknya di selatan Malang ini. Kami melewati jalan kabupaten Malang dan hutan-hutan di malam hari. Jika jalurnya sepi seperti itu, bisa dibayangkan lebih aman memang memakai mobil daripada motor untuk berangkat malam hari ke pantai. Mendekati pantai Bale Kambang, kami melihat ada 2 jalur berbeda untuk bisa sampai ke pantai. Ada jalur off-road dan ada jalur normal. Berhubung kami membawa mobil kota yang tidak diperuntukkan untuk off-road, jadi tetaplah kami memlih jalur normal. Lagipula, ini malam, man, hanya orang nekad yang ingin merasakan sensasi saja yang mau-maunya menempuh jalur off-road di malam hari, padahal jalur normal ada juga di sebelahnya. Nah, di jalur off-road itu ada satu mobil yang terjebak. Yah sudahlah, kami tinggalkan saja dan melaju terus ke pantai.

Pintu masuk pantai Bale Kambang.
Pintu masuk pantai Bale Kambang.

Sampai di pantai Bale Kambang sekitar pukul 2 dini hari. Kami langsung memarkir mobil, menurunkan baran-barang kami dan bergegas ke area perkemahan. Selain peralatan masak, dan alat penerangan plus 2 tenda besar, kami juga membawa cover untuk tenda, siapa tahu hujan, jadi kami sudah siap untuk itu. Memang saat itu musim hujan di Malang, jadi kami harus siap-siap. Perlengkapan pribadi seperti matras dan sleeping-bag juga tidak kami lupakan. By the way, entah karena orang Malang yang biasa dengan dingin atau karena memang udara tidak sedingin yang kami rasa, jadi kami tidak memakai jaket tebal karena kami rasa kawasan pantai akan lebih panas dari pada berkemah di pegunungan.

Berkemah di pantai Bale Kambang, Malang.
Berkemah di pantai Bale Kambang, Malang.

Sepuluh menit dari parkiran, melewati jembatan, kami sampai di area perkemahan. Karena penjaga pintu area perkemahan belum datang (jam 2 pagi siapa juga yang mau jagain pantai?), jadi kami masuk saja tanpa membayar. Setelah itu beberapa teman mencari titik yang paling aman dan spot terbaik untuk mendirikan kemah di tepi pantai. Ada dua tenda besar yang kami pasang, satu untuk pria dan satu lagi untuk wanita. Setelah tenda berdiri, kami pun memasak. Kami membawa bahan mentah dari rumah. Ada samosa (sejenis lumpia yang berisi daging, ini adalah makanan khas India), kentang panggang keju, ayam pedas tumis, sate lilit tuna. Wahhh ternyata kami makannya enak-enak yaa.. ini karena cowok-cowok teman saya ini jagoan masak. Beruntungnya saya! Hanya kira-kira 5-6 meter dari bibir pantai, ditemani backsound desiran ombak dan penerangan seadanya, kami menikmati memasak, makan, dan tertawa. Seru-lah pokoknya. Sekitar pukul 4 dini hari, setelah perut kenyang dan kehabisan bahan cerita, kami memutuskan untuk masuk tenda dan tidur sejenak. Byurrrr...pecahhh! Itulah musik pengantar tidur kami subuh itu.  

Pengunjung hanya boleh mandi di bibir pantai, karena ombak ganas.
Pengunjung hanya boleh mandi di bibir pantai, karena ombak ganas.

Jam 5 pagi, saat matahari hampir terbit, kami sudah bangun. Sejam tapi terlelap, karena deburan ombak itu. Ternyata langit sudah terang, saat kami bangun, jadi tak sempat melihat sunrise-nya. Setelah itu kami cuci muka dan gosok gigi lalu berkeliaran di seputaran pantai. Kami tak singgah ke jembatan yang menuju pura. Karena kami berencana ke pantai Kondang Merak, jadi kami mengabaikan jembatan itu. Ngomong-ngomong, jembatan ini mengingatkan kita akan pantai Tanah Lot di Bali. Jadi bisa dibilang, pantai Bale Kambang ini adalah "Tanah Lot"-nya Malang.

Tempat kami berkemah terletak di belakang pepohonan ini.
Tempat kami berkemah terletak di belakang pepohonan ini.

Jam 11 siang, kami berkemas dan berjalan membawa barang-barang kami ke sebuah hutan liar yang masih berada di kawasan pantai Bale Kambang. Terasa ada aroma mistis di dalamnya, jadi kami memilih untuk tidak masuk lebih dalam ke hutan dan kembali ke pantai, foto-foto sebentar lalu ke parkiran untuk naik mobil dan melanjutkan perjalanan ke pantai Kondang Merak untuk makan siang. Di pos pintu masuk pantai Bale Kambang, kami harus melapor ke petugas, dan membayar biaya berkemah seharga 5 ribu orang dan tiket masuk seharga Rp. 15 ribu per orang. Parkir mobil 10 ribu. Sekadar info parkir motor di sini 5 ribu. Kami baru melapor ketika pergi, dikarenakan ketika tengah malam kami datang, loket sudah tutup. O, ya, untuk berkemah di pantai Bale Kambang, Anda tidak perlu khawatir mengenai kamar mandi dan makanan, karena penduduk setempat membangun banyak kamar mandi dan warung-warung makan. Well… untuk makanan memang relatif lebih mahal, jadi lebih baik membawa bekal dari rumah sih. Ada juga snack ringan dan minuman kemasan yang dijual di sana.

Ada banyak pulau kecil di sekitar pantai Bale Kambang ini.
Ada banyak pulau kecil di sekitar pantai Bale Kambang ini.

Jembatan menuju pura yang kami lihat dari tempat berkemah,
Jembatan menuju pura yang kami lihat dari tempat berkemah.
Perjalanan menuju pantai Kondang Merak.
Perjalanan menuju pantai Kondang Merak.
Masih banyak pepohonan seperti ini yang menyambut pengunjung ke pantai Kondang Merak di Malang.
Masih banyak pepohonan seperti ini yang menyambut pengunjung ke pantai Kondang Merak di Malang.

Kurang dari 1 jam kami tiba di pantai Kondang Merak. Dengan tiket masuk 5000 per orang kami masuk area pantai dan langsung menuju rumah-rumah penduduk yang membuka warung di rumah mereka. Selain snorkeling, pantai Kondang Merak ini terkenal karena pengunjung bisa makan di rumah penduduk seperti rumah sendiri. Jadi orang akan lebih merasa hommy bisa makan di ruang tamu si empunya rumah sambil melihat pantai dari situ. Hampir semua warga membuka warung di rumah mereka. Kita tinggal pilih saja yang cocok dengan selera. Menu yang disajikan sama, seperti ikan bakar, cumi pedas, sate tuna, dan segala menu lain berbahan dasar ikan laut. Harganya juga tidak mahal. Kami patungan Rp 32.000,- saja sudah bisa menikmati 3 menu ikan, sayuran, dan jeruk hangat. O, ya, di area pantai Kondang Merak ini juga ada sebuah gereja, bagi kawan-kawan Nasrani boleh nih beribadah di sana ketika bermain ke pantai pada hari Minggu. Setelah kenyang dan puas menikmati hidangan laut yang lezat, kami menuju pinggir pantai untuk menikmati panasnya pantai Kondang Merak. Di sana kami foto-foto, dan beberapa teman melakukan snorkeling. Teman-teman saya ini membawa peralatan snorkeling sendiri jadi tak perlu menyewa. Di sini juga ada karang-karang kecil yang membuat anak-anak bisa melihat-lihat ikan-ikan kecil. Beberapa anak tampak menikmati mandi air laut. Saya tak memotretnya. Perut saya sudah kenyang untuk berjalan terlalu jauh ke pantai.

Pantai Kondang Merak, Malang.
Pantai Kondang Merak, Malang.
Pantai Kondang Merak cukup aman bagi anak-anak untuk mencari ikan kecil di karang.
Pantai Kondang Merak cukup aman bagi anak-anak untuk mencari ikan kecil di karang.

Ahh…kami sudah cukup lelah. Sebenarnya ada banyak yang bisa saya tulis di sini tentang pantai Kondang Merak, tapi berhubung badan ini butuh tidur, jadi mungkin lain kali saja ada cerita lagi tentang pantai-pantai di sekitar pantai Bale Kambang. 

(Jaclyn Litaay)