Berpetualang Rasa di Jogja

Saatnya untuk menelisik Jogja dari sisi berbeda. Sebagai surga kuliner, sekaligus sebagai kota yang kaya secara arsitektural.

Apa yang baru di Jogja? Sepertinya hampir semua sudut kota ini pernah disingkap dan dinikmati oleh para wisatawan. Dari gudeg, batik, hingga keraton dan candi-candi megah di sekitarnya. Bisa dipahami, karena selama puluhan tahun, Jogjakarta merupakan salah satu kota tujuan wisata paling populer di Pulau Jawa.Namun jangan khawatir, tradisi ratusan tahun yang dimiliki kota ini sesungguhnya masih menyimpan daya tarik yang selama ini nyaris terlewatkan. Bersiaplah untuk berpetualang di Jogja dengan cara berbeda, dan buka mata dan rasa untuk mengecap keindahannya.

Warisan Arsitektural

Benter Vredeburg - Loji Gede
Benteng Vredeburg – Loji Gede

Selama ini, apa saja objek wisata yang Anda kunjungi selama berada di Jogja? Keraton, Taman Sari, serta Malioboro? Jawabannya bisa dipastikan adalah ya,karena inilah spot yang paling banyak dikenal orang. Sesungguhnya, sebagai kota yang berusia ratusan tahun, Jogjakarta menyimpan kekayaan arsitektural yang tidak sedikit, tentunya karena tiap periode selalu meninggalkan jejaknya dalam bentuk arsitektural suatu kota. Di Jogja, jejak itu terekam dalam bangunan-bangunan tua berukuran besar peninggalan Belanda, yang oleh masyarakat lokal disebut loji.

Di Penghujung jalan Malioboro yang terkenal itu, Anda bisa menemukan salah satu loji tertua di Jogja, yaitu Benteng Vredeburg. Dikenal pula dengan sebutan Loji Gede, bangunan yang didirikan pada 1776 tersebut kini dapat Anda jelajahi karena dibuka untuk umum. Selasar lebar dengan pilar-pilar melengkung serta jajaran pintu dan jendela kayu menjadi elemen menarik untuk disaksikan atau diabadikan oleh Anda yang menggemari fotografi.

Hanya selemparan batu dari Vredeburg, sebuah loji lain berdiri megah, yaitu Loji Kebon. Loji yang kini lebih dikenal dengan sebutan Gedung Agung tersebut mulai difungsikan sebagai istana kepresidenan saat ibukota Indonesia pindah ke Jogjakarta pada tahun 1946, dan terus berlanjut hingga saat ini.

Sebuah kawasan loji lain juga terdapat tak jauh dari Vredeburg, yaitu loji kecil. Kawasan ini berfungsi sebagai pusat hunian orang Belanda pertama di Jogjakarta dan saat ini hanya tinggal beberapa bangunan yang tersisa dan dapat dinikmati. Beberapa diantaranya dapat Anda lihat dalam kawasan Taman Pintar yang terletak ke arah Timur dari Vredeburg. Dua gereja melengkapi wilayah loji kecil, yaitu Gereja Protestansche Kerk yang berdiri tahun 1857 dan kini dikenal sebagai Gereja Kristen Marga Mulya. Satu gereja lagi adalah Gereja Fransiskus Xaverius yang berusia 7 tahun lebih tua.

Kawasan Indisch Bintaran

Gereja Bintaran Jogjakarta
Gereja Bintaran Jogjakarta

Tak jauh dari kawasan Loji Kecil, sebuah kawasan hunian Belanda juga bisa Anda jelajahi, yaitu kawasan Bintaran. Sesuai namanya, awalnya kawasan ini merupakan lokasi kediaman Bedara Pengeran Haryo Bintoro. Kediaman sang pangeran di kawasan ini dikenal dengan nama Ndalem Mandara Giri, dengan perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda. Perpaduan ini terlihat antara lain dengan rancang luar lebar dan dinding tinggi khas bangunan Belanda, serta hadirnya sebuah pendopo khas Jawa. Seolah ingin memperkokoh perpaduan dua budaya tersebut, kini rumah tersebut beralih fungsi sebagai kantor sebuah lembaga Indonesia Belanda.

Fasilitas ibadah berupa sebuah gereja juga melengkapi kawasan Bintaran sebagai sebuah wilayah hunian. Berdiri pada tahun 1931, Gereja Santo Yusuf ini memiliki tampilan yang unik. Bentuk atap setengah lingkaran tampak selaras dengan desain lubang angin di bagian depan bangunan yang didominasi bentuk bulat dengan kisi-kisi yang juga berbentuk bulat.

Jika ingin menikmati hidangan mie jawa, kawasan Bintaran juga dapat menjadi pilihan. Di sinilah lokasi Mie Kadin yang amat terkenal itu. Selain Mie Kadin, Anda juga bisa mencoba mie jawa di babilon, alias Bakmi Bintaran Kulon yang menggunakan telur bebek untuk menjaga cita rasa asli hidangan ini.

Makanan Legendaris

Tak perlu ditanya lagi, Jogja juga dikenal atas beragam makanan tradisional yang selalu dicari banyak orang. Salahs atunya tentu saja gudeg. Hidangan yang satu ini bisa dibilang tak ada matinya. Sebab di Jogja, gudeg sah dimakan kapan saja, mulai sarapan, makan siang, atau makan malam. Wilayah Mbarek dan Wijilan merupakan sentra gudeg yang setiap hari menjadi tujuan warga lokal.

Untuk pengalaman yang berbeda, Anda harus mencoba bersantap di gudeg pawon (Jl. Janturan 36 – 38, Tel : 0852 28470264). Disebut gudeg pawon karena Anda bisa menyantap gudeg langsung di pawon (dapur) tempat pengolahan. Sebuah sensasi tersendiri bersantap sembari mengamati gelegak krecek dan gudeg yang sedang dimasak di atas tungku kayu. Jangan lupa memesan Wedang Uwuh yang merupakan minuman tradisional asal Imogiri. Namun Anda harus menyiapkan stamina untuk menikmati pengalaman berbeda ini, maklum saja, warung gudeg ini baru buka menjelang tengah malam!

kopi joss
Kopi Joss – Angkringan Lek Man

Yang merupakan ciri khas Jogja lainnya adalah berbincang santai sambil menikmati malam di angkringan. Salah satu yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Jogja adalah angkringan Lek Man (Jl. Wongsodirjan) yang terletak tak jauh dari Stasiun Tugu. Buka sejak pukul enam petang, angkringan ini menyediakan berbagai jenis makanan seperti gorengan, sate telur, jadah (panganan gurih dari bahan ketan), serta yang paling populer tentunya adalah sego kucing. Dihargai hanya seribu rupiah per bungkus, porsi sego kucing memang amat mungil. Sekepal nasi berteman oseng tempe dan sambal teri ini biasanya ditambah dengan berbagai lauk seperti tempe bacem, tempe mendoan, hingga kepala ayam. Tak cukup seporsi? Silakan tambah sesuai selera!

Yang juga harus dicoba di angkringan yang menjadi tempat nongkrong mahasiswa hingga budayawan ini adalah Kopi Joss. Kopi ini menjadi istimewa karena disajikan disertai arang yang dimasukkan dalam gelas kopi. Suara desis arang yang dimasukkan dalam kopi inilah yang menghadirkan julukan kopi joss. Kelebihan kopi ini? Konon kadar kafeinnya sangat rendah karena telah dinetralisir oleh arang.

Seribu Rasa di Jogja

soto-bu-cip
Soto Daging Sapi Bu Cip

Selain hidangan legendaris seperti gudeg dan nasi kucing, seluruh penjuru Jogja dipenuhi penjual makanan berbagai jenis yang pasti sulit ditolak pecinta kuliner. Suka hidangan yang segar berkuah? Mampirlah ke warung soto Bu Cip (Jl. S. Parman No. 58, Wirobrajan, Tel : 0857 29041172) yang menghidangkan soto sapi. Berbeda dengan soto pada umumnya, irisan daging sapi yang super empuk diletakkan di atas nasi lalu disiram kuah bening bertabur daun bawang mengeluarkan aroma yang menggoda selera. Kecap, irisan jeruk nipis dan tentu saja sambal tersedia untuk dibubuhkan sesuai selera. Anda pun dapat memesan irisan babat goreng yang renyah untuk menemani semangkuk soto pesanan.

Ayam Goreh Mbah Cemplung
Ayam Goreh Mbah Cemplung

Meski hidangan ayam goreng tersedia di seluruh penjuru nusantara, ayam goreng jawa Mbah Cemplung (Sendang Semanggi, Mbangun Jiwo, Kasihan – Bantul, Tel : 0857 43056292 atau 0856 2883445) hadir dengan keistimewaan tersendiri. Menggunakan ayam jantan, potongan ayam yang dihidangkan relatif besar hingga akan memuaskan penikmatnya. Disajikan bersama sepiring lalapan sayur hijau dan sambal, dijamin Anda tak akan berhenti menyuap potongan ayam yang digoreng kering ini.

Sambel Welut Pak Sabar
Sambel Welut Pak Sabar

Mangut Lele merupakan makanan yang jarang dijumpai di tempat lain. Dan di Jogja Anda juga bisa menikmati lele yang dimasak menggunakan santan ini, yaitu di warung mangut lele Mbah Marto (Dusun Nengahan RT 04, Ngireng Ireng Panggungharjo, Sewon – Bantul, Tel : 0821 37373477). Lokasinya agak tersembunyi, bahkan tak terlihat langsung dari jalan kampung, namun pada jam makan siang tempat ini penuh dengan pengunjung. Bila Anda lebih menyukai belut, jangan lewatkan mampir di warung sambal belut Pak Sabar (Dokara, Tamanan – Bantul, Tel : 08282 753770).

Bagi masyarakat Jawa, pecel adalah salah satu hidangan favorit. Namun berbeda dengan pecel pada umumnya, dua warung di Jogja ini tampil istimewa. Yang pertama adalah pecel wader Bu Ahmad yang terletak di depan Bandara Adisucipto (Tel : 0274 484159). Di atas nasi dan beragam sayuran yang disiram dengan sambal kacang ini, ditaburkan ikan wader goreng berbalut tepung yang digoreng kering. Sensasi kriuk-kriuk yang dihasilkan memberi pengalaman berbeda bagi penggemar pecel. Satu lagi pecel yang kini kian jarang ditemui adalah pecel kembang turi. Keistimewaannya tentu saja penggunaan bunga pohon turi sebagai campuran sayurannya. Salah satu yang masih menjual hidangan ini adalah Mbah Marto (Sendang Semanggi RT 05, Mbangun Jiwo – Kasihan, Bantul, Tel : 0857 43020484). Di tempat ini juga tersedia menu pecel welut, yang menyajikan belut tanpa tulang, sehingga Anda tak perlu repot saat menyantapnya. Jangan lupa tutup acara bersantap di sini dengan segelas air kendi dengan rasa segar yang amat khas.

Sate Klatak Pak Pong
Sate Klatak Pak Pong

Last but not least, para penggemar sate wajib mampir ke warung sate klatak Pak Pong yang terletak di Timur Stadiun Sultan Agung (Jl. Imogiri Timur, KM 10). Persiapkan perut Anda untuk menyantap potongan daging berukuran besar yang tidak ditusuk dengan tusuk sate biasa namun dengan potongan jeruji sepeda. Siraman sambal kecap dengan potongan bawang dan cabe siap menemani sate ini, dan jika masih kurang, Anda bisa memesan seporsi tongseng yang mengepulkan aroma harum mengundang selera.

Sumber : Best Lifestyle Magazine Vol. 5

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *