Teduhnya Goa Maria Tritis di Tengah Gersangnya Gunungkidul

Bus yang saya tumpangi membawa saya melewati jalan yang berliku dan menanjak. Perlahan, dedaunan yang hijau di sisi-sisi jalan berganti menjadi pohon-pohon kering. Seolah, saya baru saja mengalami pergantian musim dalam sekejap. Ah ya, berarti sebentar lagi sampai. Lagipula, sudah hampir satu setengah  jam lalu kami meninggalkan pusat kota Jogjakarta. Gunungkidul sudah terkenal dengan kondisinya yang tandus dan sulit air. Sebagian besar wilayah Gunungkidul merupakan perbukitan dan pegunungan kapur, sebagai bagian dari Pegunungan Sewu. Namun, di tengah kegersangan ini, ada sebuah oase yang menjadi penyejuk bagi setiap mereka yang datang. Oase itu bernama Goa Maria Tritis.

ladang jati yang meranggas
ladang jati yang meranggas

Hawa panas yang terasa begitu kering menerpa saat saya turun dari bus. Beberapa ibu dengan payung besar di tangan mendekati rombongan kami. Ibu-ibu ini menawarkan jasa memayungi dan membawakan tas para peziarah. Tas saya sendiri sebenarnya tidak terlalu berat, tapi toh saya setuju juga untuk dipayungi dan dibawakan tasnya. Hitung-hitung untuk membantu mereka :-). Duh, mendadak saya merasa kayak raja, dipayungi dan dibawakan tas. Untuk mencapai Goa Maria Tritis, ada dua jalur yang bisa ditempuh, yaitu jalur jalan salib sejauh 1,5 km dengan 14 perhentian dan jalur pintas sejauh 500 meter saja. Rute jalan salib di Goa Maria Tritis ini tergolong cukup menantang dengan kondisi medannya yang menanjak, menurun, berbatu. Saat menempuh jalan salib di Goa Maria Tritis, Anda bisa menikmati diorama kisah sengsara Yesus. Di perhentian XII, Anda bisa menjumpai patung Yesus yang tersalib dalam ukuran besar di dinding batu. Saya sendiri kemarin memilih rute jalan pintas. Saya bersyukur saat itu sedang tidak hujan. Jika hujan, kondisi tanahnya akan licin dan Anda harus lebih berhati-hati. Di tempat ini, Anda wajib banget menggunakan sepatu yang nyaman seperti sepatu kets. High heels is a big no no… Sepanjang perjalanan sejauh setengah kilometer itu, saya melewati hutan / ladang jati yang daunnya tampak gundul. Meranggas.

Lihat payung-payung cantik yang menaungi kami? :-)
Lihat payung-payung cantik yang menaungi kami? 🙂
suasana dalam Goa Tritis
suasana dalam Goa Tritis

Nafas saya tertahan saat kami sampai di depan Goa Maria Tritis. Goa alam menjulang megah di hadapan saya. Saat melangkah masuk, nuansanya terasa lembab sekaligus teduh. Saya sungguh terpukau melihat stalaktit dan stalagmite di mana-mana. Tetesan air menitik dari langit-langit goa. Itulah sebabnya mengapa goa ini dinamakan Tritis (dari asal kata “tumaritis” yang artinya “air yang menetes). Tetesan-tetesan air ini berkumpul menjadi suatu mata air. Tak jarang peziarah yang datang membawa pulang air tersebut. Di satu sisi dinding goa, tergantung Salib Yesus sementara di sisi lainnya terdapat altar dan juga patung Bunda Maria berwarna hitam. Patung Bunda Maria itu disebut sebagai Black Madonna.

Black Madonna
Black Madonna
Patung Yesus tergantung di dinding goa
Patung Yesus tergantung di dinding goa

Goa Maria Tritis ini baru mulai dikenal pada tahun 1974. Goa Maria Tritis ini ditemukan oleh seorang siswa SD. Dulunya goa ini dianggap angker dan digunakan sebagai tempat bertapa mencari ilmu. Keangkerannya perlahan menghilang sejak goa ini dijadikan tempat peziarahan. Pada tahun 1978, dibangunlah rute jalan salib. Goa Maria Tritis ini termasuk salah satu tempat ziarah favorit di Yogyakarta. Bahkan, tempat ini akan ramai dikunjungi saat bulan Mei dan Oktober. Di bulan Mei dan Oktober, perayaan Ekaristi pun kerap diadakan di Goa Maria Tritis ini.Tapi, saat kemarin saya datang, suasananya tampak sepi. Bahkan jika dulunya banyak para pedagang, kemarin hampir tidak ada pedagang yang saya jumpai.

stalaktit dan stalagmit di Goa Tritis
stalaktit dan stalagmit di Goa Tritis
ada mata air di dalam Goa Tritis
ada mata air di dalam Goa Tritis

PicsArt_1448251811252

Selesai mendaraskan doa-doa, saya iseng berkeliling di sekitar Goa Maria Tritis. Menurut pandangan saya, tempat ini sudah difasilitasi dengan baik sehingga sangat nyaman bagi para peziarah. Lantainya sudah diberi konblok dan di sana-sini tampak bangku-bangku panjang dari kayu. Saya melihat bahwa di pinggir goa ada semacam jurang yang cukup dalam. Bagi yang membawa anak kecil harus hati-hati, ya!

IMG_20151112_120730

Setelah selesai melihat-lihat dan berfoto-foto, saya dan rombongan pun meninggalkan Goa Maria Tritis. Perjalanan kembali sedikit lebih berat karena jalurnya menanjak. Sesampainya di titik awal, kami lalu melepas lelah sejenak sembari menikmati kelapa muda yang dijual di sana. Ah segarnya…. Uniknya, saat kami meminta sendok untuk mengeruk daging buah kelapa, bapak penjualnya membuatkan sendok dari batok kelapa yang kami makan. Saya yang cenderung cukup higienis sebenarnya merasa “agak gimana” gitu lho… Tapi ya sudahlah ya, saya mencoba cuek saja demi menikmati daging buah kelapa mudanya yang beneran tebal dan gurih. Next time, mungkin ada baiknya membawa sendok di dalam tas. Hehehe…

IMG_20151112_121325

Beres menyantap kelapa muda, kami pun lalu kembali ke bus. Para ibu yang sudah memayungi dan membawakan tas pun ikut mengantarkan kami hingga ke depan bus. Saya senang sekali dengan keramahan mereka. Oh ya, mereka sama sekali tidak memaksa pengunjung untuk memakai jasa mereka memayungi, lho! Saya rasa itulah yang membuat para pengunjung merasa nyaman. Buat saya pribadi, kalau besok-besok Anda berkunjung ke Goa Maria Tritis tak ada salahnya untuk memakai jasa mereka memayungi. Prihatin sekali rasanya melihat kondisi di sana yang gersang dan sangat miskin. Fyi, beras/nasi saja merupakan barang mewah bagi mereka, lho! Maka, bersyukurlah Anda yang masih bisa menikmati kuliner enak di cafe-cafe, yah!

(marchaela)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *