KEDAI RAKJAT DJELATA – RASA DJAWA KOENO

Yogya terkenal dengan lesehannya. Makanan yang dijual di lesehan juga biasanya adalah makanan tradisional khas Yogya. Tapi tidak semua orang bisa duduk menikmati makanan tradisional dengan cara lesehan. Ada yang merasa lebih nyaman dengan duduk di atas kursi. Nah, bagaimana kalau mau tetap makan makanan tradisional yang biasa dijual di lesehan, pinggir jalan, tapi tetap duduk di kursi? Ada resto baru di Yogya yang menawarkan perpaduan seperti itu yaitu Kedai Rakjat Djelata.

Namanya juga kedai, artinya itu adalah bangunan tempat berjualan makanan-minuman. Ada bangunan, dan bukan hanya tenda atau tikar yang digelar dengan menumpang pada bagian depan rumah atau toko orang lain. Kedai Rakjat Djelata ini menawarkan menu-menu yang memang berasal dari makanan khas rakyat jelata. Di tengah bombardir jenis makanan ala Singapore, ala Thailand, ala Amrik dan Eropa, dan ala-ala luar negeri lainnya, kedai ini hadir untuk mengingatkan kita kembali akan kekayaan kuliner Nusantara.

Tanpa mendiskreditkan arti kata “rakjat djelata”, kedai ini memang dibuat untuk memenuhi kerinduan masyarakat akan selera makanan rasa zaman dulu. Kapan sih zaman dulu yang dimaksud itu? Dzaman Djawa Koeno. Hahaha.. mungkin membacanya saja Anda harus berhenti sebentar untuk melihat bahasa apakah itu. Yap, zaman Jawa Kuno. Terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 54, tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan di Jogja, Anda dapat menemukan kedai dengan masakan khas Djawa Koeno itu. Dengan tagline, 100% Murah, 100% Enak, dan 100% Halal, siapa yang tidak tergoda mencobanya?

Tagline yang terpampang di plang Kedai Rakjat Djelata.
Tagline yang terpampang di plang Kedai Rakjat Djelata.

Masuk ke Kedai Rakjat Djelata, mata Anda akan dimanjakan dengan berbagai macam potret era Indonesia masih dijajah Belanda, bahkan sebelum masa itu. Rasa “Tempoe Doeloe” begitu kental ketika kaki saya melangkah ke sana. Bukan rasa kolonial, tapi rasa Indonesia zaman baheula. Zaman televisi masih hitam putih, zaman handphone belum lahir, zaman di mana kita melihat para wanita di Jawa masih mengenakan kebaya dan sarung sebagai pakaian sehari-hari. Di dinding kiri dan kanan, banyak tergantung potret hitam putih dari keluarga atau sosok pria, wanita, dan anak-anak yang hidup di zaman itu. Ada pula potret berwarna dari menu-menu recommended Kedai Rakjat Djelata. Dekat meja kasir, banyak tertempel replika uang kertas zaman dulu. Ada yang satu rupiah, lima rupiah, dan banyak lagi. Di sisi dinding dan tiang-tiang kayu lainnya, tergantung banyak piring kaleng bermotif bunga. Ada pula panci, centong nasi, ceret, rantang, dandang, termos, baskom, sutil, penggorengan, wajan, dan peralatan makan-minum-masak lainnya yang digantung atau diletakkan di rak yang dipaku pada dinding. Semuanya khas zaman dulu. Zaman kita belum lahir. Kalau Anda lahir tahun 1945 atau sebelumnya, saya ‘nggak yakin Anda masih bisa membaca blog ini, ‘kan?!? Nah, menu-menu di sini datang dari zaman itu.

Berbagai peralatan makan-minum-masak yang terpasang di sini.
Berbagai peralatan makan-minum-masak yang terpasang di sini.

 

Potret hitam putih dari zaman dulu yang terpampang di dinding.
Potret hitam putih dari zaman dulu yang terpampang di dinding.

 

Di sinilah saya memesan makanan.
Di sinilah saya memesan makanan.

Sambil menikmati interior Kedai Rakjat Djelata, saya mendekati rak makanan dengan tulisan berbahasa Jawa yang halus (ngoko), “Pesan Wonten Mriki”. Saya pikir saya hanya akan makan makanan rumahan seperti bayam rebus atau minimal sambal gorenglah. Tapi menu di sini ternyata benar-benar zaman dulu. Membayangkan seperti apa rasanya tentu tidak bisa, karena saya belum lahir di zaman itu. Makanya saya harus mencoba, sambil melihat-lihat apakah terlalu banyak cabe atau tidak, dan mengukur kekuatan perut saya sendiri apakah saya sanggup menghabiskannya. Karena saya datang malam hari, saya tak berani ambil risiko makan makanan yang terlalu pedas atau banyak garam, pasti saya sulit tidur setelah itu.

Nasi merah dan sambal goreng teri yang saya pesan.
Nasi merah dan sambal goreng teri yang saya pesan.

Jadilah saya memilih nasi merah (ini termasuk menu jadul lo ya!?), sambal goreng tempe-kacang-teri, dan sayur asem khas Jogja. Makan nasi merah dan sayur asem sih masih aman, tapi pas makan teri, wow, asinnya! Saya tak mau komplain karena ini pilihan saya dan mungkin rasa asin itu mewakili rasa asin zaman Djawa Koeno itu. Apa hendak dikata, kacang dan tempenya sih saya habiskan, tapi terinya itu lho, saya minta maaf pada diri sendiri karena tak sanggup menghabiskan. Dan karena saya baru pulang dari Solo dengan motor malam itu, saya harus mengisi perut saya dengan minuman yang tradisional dan menghangatkan badan. Pilihan jatuh pada, Wedang Teh Oewoh, yaitu minuman teh dengan campuran bumbu-bumbu seperti serutan kayu secang kering, jahe, daun kayu manis kering, daun cengkeh kering, daun pala kering, gula batu atau gula pasir, dan beberapa butir cengkeh. Hmmmphh…. angin dalam perut langsung bablas angine!

Wedang Teh Oewoh.
Wedang Teh Oewoh.
Nasi putih pulen yang lembut dan hangat itu.
Nasi putih pulen yang lembut dan hangat itu.

Saya mencoba menu yang dipilih kedua sepupu yang menemani saya. Nasi putih pulen dan cumi asin oseng pedas, dan sambel mentah yang kalau dilirik di menunya bernama Sego Oewek Sambel Tjoemi Asin. Nasi putihnya enaaakkk sekaliiii! Pulen, lembut, padat! Minumnya, Soesoe Hoehah, maksudnya minuman panas susu jahe yang habis minum bisa bikin kita bilang, “Huha!” Ada pilihan menu lain seperti Bubur Ayam Kasoengan (bubur ayam Kasongan – nama Kasongan adalah nama desa di Bantul, selatan Jogja), Kresa Njamleng (ikan bandeng asin yang dilabur rempah-rempah yang merupakan makanan abdi dalem keraton Jogja), Djangan Asem Waringin (sayur asam), Brongkos Sego (sayur kacang merah yang diberi bumbu khas rawon yang dicampur dengan nasi), Gudeg, dan banyak lagi. Minuman yang tersedia ada Kembang Deso, Campur Bawur, Cincau Ireng, Buaya Darat, Es Timun, Bandrek Soesoe, dan….daftar lengkapnya tentu harus ke sini dong ya?!

Setelah mencicip sana-sini, saya memastikan satu hal dari menu-menu ini. Ada rasa hambar yang disengaja pada beberapa menu. Ini karena makanan rakyat jelata pada zaman itu tidak banyak menggunakan bumbu. Tapi ada beberapa makanan lainnya, seperti yang saya coba, memiliki rasa yang tajam.

Ada yang unik dari cara memesan menu. Setelah memesan menu, saya mengambil nomor meja yang terbuat dari bambu dengan ditulisi nomor. Jika saya hendak memesan lagi, saya tinggal memukul bambu dengan kayu kecil yang ada dalam bambu itu, dan pramusajinya akan datang ke meja di mana saya duduk. Pengalaman ini agak lucu buat saya, karena tidak biasa. Dan saya mencobanya, habis itu saya tertawa sendiri. Bunyi seperti kentungan, hmmm…seperti orang kampung memang, tapi memang tujuannya untuk rakyat jelata, jadi kekhasan seperti itu dimunculkan. Saya menikmati itu. Saya pikir ini salah satu, konsep yang kuat dalam membangun citra sebuah restoran atau rumah makan. Tidak asal ikut-ikutan tapi menciptakan kekhasan tersendiri. Pengunjung jadi punya kesan unik saat datang dan menikmati makan-minum di sana.

Nomor meja yang terbuat dari bambu.
Nomor meja yang terbuat dari bambu.

Satu hal lain yang mendekatkan saya dengan kedai ini, karena suasana kedai begitu mirip dapur dan ruang makan, kesan hommy ada di sini. Setelah membayar, saya happy, karena ternyata untuk makan-minum bertiga, masih di bawah 100 ribu rupiah. Tidak heran, pengunjungnya banyak mahasiswa, atau orang kerja yang suka nongkrong sampai malam. O, ya, jam bukanya dari jam 11 siang sampai 11 malam. Ah, ada satu hal yang hampir terlewatkan. Nyaris semua masakan khas Djawa Koeno di sini, butuh cara masak yang lama. Misalnya brongkos. Memasak bumbu brongkos butuh waktu lebih dari sejam, supaya kuahnya tidak pecah dan tetap kental. Karena ada santan dan kluwak di dalamnya, jadi memasak seperti itu butuh kesabaran tersendiri. Gudeg juga hampir mirip begitu. Untuk mendapatkan rasa gudeg yang sempurna, bumbunya harus diendapkan minimal semalaman. Bahkan menurut ibu-ibu dan eyang-eyang yang jago masak gudeg, lebih enak lagi kalau bumbu gudeg itu dibiarkan bermalam-malam. Bisa seminggu lho!?!… Saya rasa, itu salah satu alasan yang masuk akal, mengapa kedai ini baru buka jam 11 siang. Tentu butuh waktu yang cukup lama untuk memasak kebanyakan menu jadul di sini.

Keunikan lain adalah bagi para pengunjung Kedai Rakjat Djelata yang datang ke sini dengan menggunakan busana dan atribut tempoe doeloe, mereka berhak mendapatkan diskon. Sudah murah, masih diskon pula! Tujuannya semata-mata untuk melestarikan kekayaan budaya tempoe doeloe. Para pramusaji di sini juga semuanya menggunakan busana atau atribut tempoe doeloe itu. Yang perempuan berkebaya dan sarung, yang pria memakai blangkon dan beskap. Di bagian dalam dari, kedai ini, ada juga lesehan untuk yang mau duduk di berselonjor di lantai dan menikmati makanan atau mau duduk bergaya ala barat.

Bagian dalam Kedai Rakjat Djelata yang disediakan bagi yang ingin lesehan atau bergaya ala bar.
Bagian dalam Kedai Rakjat Djelata yang disediakan bagi yang ingin lesehan atau bergaya ala barat.

Memadukan desain interior dengan konsep menu dan penyajian menu yang kuat… hmmm…tidak banyak ‘kan, rumah makan, warung, atau restoran yang punya konsep kuat seperti Kedai Rakjat Djelata?!!..  Saya pikir sudah waktunya bangsa Indonesia itu bangga dengan kekayaan kuliner kita yang amat kaya rasa dan kaya ragam. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Yuk, cintai budaya kuliner Nusantara!….

(Jaclyn Litaay)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *