Kenali Low, High, dan Peak Season untuk Menghindari Liburan Tak Sesuai Harapan

Ketika memutuskan untuk liburan, penting untuk membuat perencanaan yang matang agar perjalanan wisata sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti kita tahu bahwa harga tiket pesawat, kereta api, kapal laut ataupun kamar hotel tak selalu sama sepanjang tahun, bergantung apakah waktu itu low season, high season, atau peak season. Ketiga istilah tersebut sebetulnya sudah lumrah terdengar di tengah kebutuhan travelling yang saat ini kian hari kian tinggi. Tapi, bagi traveller pemula, istilah-istilah tersebut terkadang masih membingungkan. Dalam artikel kali ini, Klikhotel akan membahas garis besar mengenai perbedaan tentang low, high dan peak season. Dengan lebih tahu istilah-istilah itu, maka Anda pun dapat menimbang plus minus pergi liburan pada periode-periode tersebut.

Tanah Lot Saat Low, High dan Peak Season

Sumber gambar dari atas ke bawah www.recipeforadventures.com, www. asiawebdirect.com dan www. thedesignsouk.com

Kawah Putih Saat Peak, High dan Low Season

Sumber gambar dari atas ke bawah www.indonesia-tourism.com, www.adylahaquee.wordpress.com dan www.awalnya.blogspot.co.id

Low Season

Singkatnya, low season adalah musim liburan yang sepi pengunjung. Berlibur saat low season tentu sangat menyenangkan bagi yang tidak suka keramaian. Musim liburan ini merupakan musim favorit para budget traveller karena biasanya akan banyak promo tiket pesawat ataupun hotel murah sehingga liburan saat low season tentunya dapat menghemat pengeluaran. Di Indonesia sendiri, saat low season biasanya banyak promo tiket pesawat, terutama ke Bali. Begitu pula dengan hotel-hotel yang berlomba-lomba menawarkan promo menarik dengan rate yang lebih rendah. Bahkan, terkadang rate tersebut sudah termasuk sarapan ataupun penawaran menarik lainnya. Anda juga akan lebih mudah menemukan kamar kosong saat memesan kamar hotel tanpa harus reservasi jauh-jauh hari.

Di sisi lain, liburan di saat low season juga terkadang tak menguntungkan. Memang tak ada kepastian kapan low season itu terjadi. Tapi, low season umumnya terjadi ketika iklim atau cuaca tak bersahabat sehingga wajar saja bila minat orang-orang untuk berlibur pun menurun. Low season di Indonesia secara umum terjadi saat musim hujan, yakni antara Oktober sampai April, terkecuali saat liburan akhir tahun antara Natal dan Tahun Baru. Khususnya di Bali, low season biasanya dimulai dari

  • Pertengahan Januari sampai akhir Mei,
  • Awal September sampai pertengahan Desember.

High Season

Kebalikan dari low season, high season menggambarkan musim liburan yang cukup ramai. Musim liburan ini biasanya bertepatan dengan

  • Libur sekolah (Juni-Juli)
  • Libur nasional, seperti libur Lebaran, libur Imlek, libur Natal, dan libur “long weekend”.
  • Bulan Agustus juga termasuk high season di Indonesia, terutama di destinasi wisata populer seperti Bali dan Lombok. Ini karena bulan tersebut merupakan musim liburan orang luar negeri.

Di periode-periode high season tersebut, biasanya biaya transport, baik itu melalui darat, laut, maupun udara, cenderung naik beberapa persen. Pun rate kamar hotel juga akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan sekitar 30% hingga 50% dari harga normal. Terutama hotel-hotel yang berlokasi di daerah-daerah yang memiliki destinasi wisata populer, seperti Bandung, Bogor, Surabaya, Malang, Bali dan Lombok.

Sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan, jangan heran jika saat high season, antrian panjang akan terjadi di mana-mana, mulai dari ketika naik transportasi umum hingga antrian untuk membeli tiket masuk ke tempat wisata. Meski biayanya menjadi sedikit lebih tinggi, tapi liburan saat high season sebetulnya menyenangkan bagi orang-orang yang menyukai keramaian. Suasana liburannya akan lebih terasa dan cuaca saat high season biasanya memang mendukung untuk liburan. Selain itu, berbagai tempat wisata juga biasanya beroperasi lebih lama dan ada sejumlah atraksi atau event menarik di suatu destinasi wisata yang digelar pada saat high season, seperti Bali Kites Festival dan Ubud Village Jazz Festival yang biasanya diadakan di Bali pada bulan Agustus. 

Peak Season

Peak season pada dasarnya menggambarkan situsi yang tak jauh berbeda dengan high season. Namun, peak season jauh lebih ramai dan padat ketimbang high season. Periode puncak musim liburan ini jatuh pada libur Natal dan akhir tahun. Sudah pasti biaya liburan pada periode ini akan jauh lebih mahal baik itu untuk transportasi maupun akomodasi, dan lalu lintas pun lebih padat ketimbang high season. Di Bali, Lombok, Jakarta, dan Bandung misalnya, tarif kamar hotel terkadang bisa mengalami kenaikan yang drastis hingga 250%. Reservasinya pun harus jauh-jauh hari, minimal dua bulan sebelumnya. Hotel-hotel juga terkadang menerapkan aturan tertentu, seperti compulsory dinner pada malam pergantian tahun. Dengan kata lain, customer harus membayar biaya tambahan khusus untuk event menyambut tahun baru yang diadakan hotel, yakni makan malam dan acara entertainment.

Low season memang adalah pilihan terbaik jika Anda ingin merasakan suasana yang tenang dengan biaya lebih hemat tentunya. Tapi, jika hanya punya hari libur yang termasuk ke dalam periode high season atau peak season, persiapkan dengan matang agar nanti Anda tak kerepotan karena susah mencari tiket pesawat atau kamar hotel. Jangan pesan terlalu berdekatan dengan hari keberangkatan karena selain mahal, Anda pun belum tentu kebagian. Booking tiket pesawat dan kamar hotel jauh-jauh hari sebelumnya. Ketika mencari hotel misalnya, pastinya akan repot kalau harus pesan dengan datang langsung (direct booking) ke hotel yang Anda pilih. Agar praktis, tiket pesawat dan kamar hotel domestik bisa dipesan dengan mudah melalui online travel agent terpercaya, seperti www.klikhotel.com.