Nyebur ke Air Terjun Waai Ambon, Brrrr!

Pemandangan di tengah perjalanan menuju Air Terjun Waai.
Pemandangan di tengah perjalanan menuju Air Terjun Waai.

Klikers mungkin masih ingat dengan wisata kolam ikan morea di Waai yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Yap letaknya di kampung Waai, Ambon. Wisata ikan morea memang sangat terkenal. Tapi kini ada obyek wisata baru yang lagi booming di Waai, yakni Air Terjun Waai. Jalan masuk menuju Air Terjun Waai, tepat di antara Pantai Natsepa dan Pantai Liang. Kurang lebih 90 menit dari kota Ambon, tepatnya di bawah kaki Gunung Salahutu, jelas masuk jauh ke dalam hutan. Air Terjun Waai ini sudah lama ada, hanya saja jalan masuk ke sana tadinya sangat sulit, karena harus jalan kaki naik turun gunung dan berbukit-bukit terjal. Hanya para petualang yang akan ke sana menorobos kesulitan-kesulitan.

Menyadari potensi alamnya, masyarakat Waai kemudian membuat jalan baru yang menerobos hutan. Ya, hutan dan bukit dibongkar demi membuat jalan akses ke Air Terjun Waai mudah dijangkau. Dan jalannya terus menanjak sampai ke kawasan air terjun. Tahun 2015 lalu jalan masuk ke sana masih tanah merah yang berdebu. Hari ini (tahun 2016), mobil Anda sudah bisa ke sana melalui jalan aspal. Kiri kanan masih hutan dan banyak pohon kayu putih. Langit biru. Indah sekali. Untung saja matahari sedang bersinar terang ketika saya dan para sepupu datang ke sini. Ya, dan bersinarnya sangat panas, yang membuat saya merasa gerah dan ingin segera mandi di air terjun.

O,ya, selain masih hutan, perjalanan menuju Air Terjun Waai tidak ada penerangan. Jadi saya sarankan datanglah pagi atau siang hari. Jangan datang menjelang sore. Selain gelap, di sini hutan lho. Jadi tentu saja pertolongan agak sulit jika Anda tersesat. Walaupun sudah gampang akses ke sana, namun tempat ini belum komersil. Belum ada karcis masuk, belum ada tiket parkir. Ada tempat parkir tapi ya seadanya. Agar tempat ini tetap terawat, pengunjung diminta memberi sumbangan sukarela untuk biaya perawatan yang dikelola oleh masyarakat setempat. Saya dan para sepupu membayar masing-masing 5 ribu rupiah untuk sumbangan sukarela itu agar dapat masuk ke kawasan air terjun. Kalau Anda mau kasih 20 ribu atau 100 ribu juga terserah saja.

Hutan yang menyambut kami menuju Air Terjun Waai.
Hutan yang menyambut kami menuju Air Terjun Waai.

Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan kaki sekitar 500 meter menuruni anak tangga yang sudah disemen diberi kayu dan batu, juga jalan tanah untuk menuju air terjun di bawah. Jadi amanlah. Saat kami datang area parkir sepi dan waktu itu bukan Sabtu-Minggu. Karena area ini masih perawan, kami dibimbing oleh seorang bapak (semacam tour guide) yang membawa kami setapak demi setapak menuju air terjun. Mungkin saat kami datang sedang sepi jadi kami perlu dipandu. Kami harus melewati sungai yang cukup lebar, berair jernih dengan debit air yang rendah dan banyak bebatuan yang aman dilewati. Tinggi air paling dalam di bawah lutut orang dewasa. Di sini, Anda masih bisa pakai sendal atau sepatu gunung untuk berbasah ria. Pas kaki saya masuk ke air, brrrrr…dhinginnrrrrrhh…banget! Ini belum sampe ke air terjunnya lho. By the way…suasana alam sekitar sungguh menakjubkan. Banyak suara burung dan serangga di kejauhan. Gemericik air. Daun-daun berselisik dari pepohonan yang ditiup angin pegunungan. Ahhh..surgaaa!

Anak tangga dan jalan tanah yang harus dilewati.
Anak tangga dan jalan tanah yang harus dilewati.
Sungai pertama yang kami lewati untuk sampai ke air terjun. Airnya dingiinnnn...
Sungai pertama yang kami lewati untuk sampai ke air terjun. Airnya dingiinnnn…

Setelah melewati jalan tanah, naik tangga kayu, sampailah kami di air terjun. Dan ternyata, Air Terjun Waai ada tiga tingkatan! Air terjun pertama setinggi kira-kira 1,5 meter yang dibelah oleh batu di tengahnya. Nah di sini sudah ‘nggak bisa pakai sendal biasa apalagi sepatu. Paling aman ya sandal gunung yang langsung melekat menutup kaki. Ya mirip-mirip sepatu Reebok atau Nike itu lho. Kalau ga punya ya ‘gak papa sih, asal tau berpijak aja. Oke, di sini kami langsung terjun ke kedalaman sekitar 3 – 5 meter untuk menikmati segarnya air. Kami tak lama karena penasaran dengan air terjun kedua.

Air terjun pertama. Hanya boleh mandi di sini.
Air terjun pertama. Hanya boleh mandi di sini.

Untuk sampai ke air terjun kedua, dari dalam air, kami harus memanjat tangga kayu persis di samping air terjun pertama. Licin. Jadi harus hati-hati. Selain itu, kayaknya kamera yang dipakai di sini sudah harus sejenis GoPro deh. Karena air menciprat di mana-mana. Setelah menaiki tangga kayu, kami berjalan menuju air terjun kedua melewati aliran sungai di atas air terjun pertama yang dikelilingi oleh 2 tebing batu yang tinggi sekitar 15 meteran yang mengelilingi aliran sungai tersebut. Dari jauh tampak seperti gua, ternyata ini adalah lorong di antara terbing dengan banyak batu besar di sungai. Di ujung lorong tebing cahaya, matahari masuk dan kami bisa mendengar deru air terjun kedua yang lebih deras.

Air terjun kedua. Hanya bisa foto-foto di samping dan tak boleh mendekat ke tengah-tengah air.
Air terjun kedua. Hanya bisa foto-foto di samping dan tak boleh mendekat ke tengah-tengah air.

Air terjun kedua lebih tinggi sekitar 3-4 meter. Sayangnya, si pemandu melarang kami mandi mengingat arusnya sangat deras. Menurut pemandu, ada sih yang nekad tetap berenang di air terjun kedua, tapi harus diingat ya, kalau mau lompat ya langsung berenang ke tepi. Itu pun kalau kamu yakin dan udah ahli bisa menangani arus air yang kencang yaa. Kalau tidak yakin, apalagi sudah dilarang sama pemandu, mendingan jangan nekad daripada kebawa arus sungai dan ga bisa balik. Secara ya, dalamnya 12 meter ke bawah, dan di bawah air terjun ini ada pusaran air yang memutar yang ke bawah. Nah, bahaya 'kan? Mendingan ga usah mandi deh di air terjun kedua ini. Bagaimanapun saya senang melihat ada batang pohon tua yang tenggelam dalam air. Kesan alami dan fantasi mulai bermain-main di benak saya.

Lalu di belakang air terjun kedua, kami harus berjalan dan sedikit memanjat tebing pendek untuk sampai ke air terjun ketiga. Di sini, benar-benar dilarang mandi. Tak ada toleransi. Tingginya sekitar belasan meter. Saya tak memotretnya. Maka kembalilah kami ke air terjun pertama melewati jalan yang sama. Di sinilah, saya dan para sepupu benar-benar bisa menikmati dinginnya Air Terjun Waai. Jleb..jleb.. jleb..benar-benar puas bisa mandi. Tidak rugi datang jauh-jauh di sini. Setelah puas mandi, kami pulang dan sempat berhenti sebentar kembali memotret pemandangan laut dan pulau-pulau dari ketinggian Gunung Salahutu. Cantiknyaa…ah perjalanan yang menyenangkan.

Ini adalah daerah Gunungan Salahutu. Tampak di bawah sana pulau-pulau kecil di Maluku.
Ini adalah daerah Gunungan Salahutu. Tampak di bawah sana pulau-pulau kecil di Maluku.

(Jaclyn Litaay) – IG: @eqnlee, FB: Eqn Lee, eqnlee.wordpress.com