Indahnya Pemandangan Geopark Ciletuh dari Puncak Darma

Menjadikan Geopark Ciletuh Sukabumi sebagai destinasi liburan dijamin tak akan mengecewakan. Mengapa? Kawasan wisata berstatus geopark nasional ini punya banyak objek wisata menarik, mulai dari pantai, air terjun, hingga tempat epic untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Saya pun sangat bersyukur di penghujung akhir tahun 2016 kemarin dapat berlibur bersama teman-teman menghabiskan waktu dua hari di sana. Salah satu yang membuat liburan ke Geopark Ciletuh begitu berkesan adalah ketika saya mengunjungi Puncak Darma.

puncak darma
Puncak Darma Geopark Ciletuh

Jika Anda mencari referensi mengenai objek wisata di Geopark Ciletuh, Puncak Darma adalah salah satu yang paling banyak direkomendasikan. Saya pun yang waktu itu pertama kali ke Geopark Ciletuh, tak ketinggalan mencatat Puncak Darma sebagai destinasi "wajib". Tak sulit untuk menemukan letak tempat ini karena tak jauh dari tugu Geopark Ciletuh yang ada di pantai Palangpang.

Dari pantai Palangpang, saya melihat ada air terjun yang cukup membuat saya penasaran ingin ke sana. Syukurlah ternyata jalan menuju air terjun satu arah dengan Puncak Darma. Air terjun tersebut bernama Curug Cimarinjung, jaraknya sekitar 1 km dari pantai. Saya dibuat takjub oleh air terjun ini. Meski aliran airnya tak begitu jernih, tapi tetap eksotis karena air terjun ini memiliki tebing bebatuan berwarna kecoklatan yang penampakannya disebut-sebut mirip batuan purba klasik zaman Jurrasic. Ya, objek wisata di Geopark Ciletuh memang kebanyakan didominasi bebatuan purba. Menariknya lagi, bebatuan tersebut konon merupakan bebatuan tertua di pulau Jawa.

puncak darma
Curug Cimarinjung – Geopark Ciletuh

Setelah puas di air terjun, saya dan teman-teman istirahat di warung terdekat sambil bertanya pada pemiliki warung mengenai perjalanan ke Puncak Darma. Kami diberitahu kalau kami tidak memungkinkan membawa motor sendiri karena rutenya naik turun dan jalannya bergelombang didominasi bebatuan. Demi keselamatan dan keamanan, pemilik warung menyarankan untuk trekking selama satu jam atau naik ojek yang memang khusus sebagai transportasi menuju Puncak Darma. Saya dibuat terkejut karena ongkosnya cukup mahal, yaitu 60 ribu rupiah pulang pergi. Tukang ojeknya nanti akan menunggu tanpa patokan waktu. 

Setelah berdiskusi dan coba tawar harga, kami pun memutuskan untuk menggunakan jasa ojek. Naik ojek ke Puncak Darma itu benar-benar memacu adrenalin. Rutenya memang sangat ekstrim. Saya tidak sempat memotret kondisi jalannya. Jangankan untuk pegang kamera, tangan saya sepanjang jalan tidak lepas pegangan ke tukang ojek saking jalannya bergelombang karena banyak bebatuan besar. Naik turun pula! Ketika sampai, rasanya tubuh saya jadi lemas dan mau muntah karena mungkin saking paniknya. Untunglah, itu tak berlangsung lama. Sepoian angin dan indahnya pemandangan di sana benar-benar me-refresh fisik dan pikiran.

puncak darma
Pemandangan dari Puncak Darma

puncak darma
Pemandangan teluk Ciletuh

puncak darma
Pemandangan sawah dan rumah penduduk dari Puncak Darma

Daya pikat utama yang ditawarkan Puncak Darma adalah pemandangan kawasan utama Geopark Ciletuh, yakni teluk Ciletuh (pantai Palangpang) yang bentuknya unik menyerupai tapal kuda, yang membentang luas hingga Samudera Hindia. Tak hanya itu saja, saya juga disuguhi pemandangan barisan sawah dan rumah penduduk. Rasanya seperti melihat diorama. Pastinya penyuka fotografi akan betah lama-lama di sini. Menjelang petang adalah waktu terbaik untuk menikmati pemandangan dari Puncak Darma yang eksotis berselimut lembayung senja. Waktu saya ke sana, terdapat batu yang diberi penanda bahwa batu tersebut sedang diteliti apakah merupakan batu peninggalan sejarah atau bukan.

puncak darma
Batu yang diduga peninggalan sejarah

puncak darma
Pemandangan sawah dan rumah penduduk

puncak darma
Area perbukitan Puncak Darma

Meski rutenya susah, fasilitas di Puncak Darma terbilang lengkap. Ada toilet hingga warung penjual makanan ringan. Dan disediakan pula sarana berfoto, seperti ayunan dan tempat duduk dari bambu. Waktu saya ke sana banyak muda-mudi yang sedang beromantis ria 😐

Kabarnya, dulu di Puncak Darma sering terlihat sosok “hantu wanita” yang duduk di atas batu sambil menggoyangkan kaki. Oleh karenanya, masyarakat sekitar juga menyebut tempat ini dengan sebutan Bukit Kuntilanak. Karena sudah puas foto-foto dan cukup parno juga dengan cerita tersebut, saya dan teman-teman pun memutuskan untuk “turun” tidak menunggu sunset. Kasihan juga para tukang ojek jika menunggu terlalu lama dan kami pun waktu itu belum mencari penginapan.

Oh ya, awalnya kami nego harga 55 ribu rupiah, tapi karena kami merasa kalau rute yang dilalui sangat sangat ekstrim, kami akhirnya memutuskan untuk membayar para tukang ojek yang mengantar kami dengan harga standar yang mereka patok, yaitu 60 ribu rupiah. Menurut kami, uang tersebut tidak ada apa-apanya dibanding risiko kecelakaan karena pekerjaan yang mereka lakukan.

Saya acungi jempol tinggi-tinggi karena para tukang ojek Puncak Darma ini punya skill mengendarai motor yang luar biasa. Mereka juga ramah-ramah. Terima kasih untuk para OPD (Ojek Puncak Darma) yang telah mengantar saya dan teman-teman selamat sampai tujuan. Tapi, sangat disayangkan jasa ojek di sini tidak dilengkapi peralatan untuk keamanan. Semestinya setiap penumpang disediakan minimal helm mengingat medan yang dilalui adalah jalan berkerikil besar yang naik turun. Saya harap aspek keselamatan ini lebih diperhatikan ke depannya.

puncak darma
Bersama OPD

Overall, saya puas sekali dengan pemandangan di Puncak Darma, dan pengalaman ke sana benar-benar mantap jiwa!