Sego Simbok, Resto Klasik Harga Mahasiswa

Sego Simbok di waktu malam.
Sego Simbok di waktu malam.

Makan untuk hidup, dan bukan hidup untuk makan.” Begitulah bunyi kata bijak yang sering kita baca di sosmed, sekarang orang mau buka buku males ‘kan?, jadi wajar saja kalau saya bilang di sosmedlah kita membaca kata-kata bijak dari belahan dunia manapun. Oke, bicara soal makan untuk hidup, saya pikir ketika orang memikirkan kata bijak ini (idealnya) ia tentu akan menerima makanan apa saja yang bisa masuk ke perutnya asal ia bisa bertahan hidup. Orang-orang yang bertarung dengan kehidupan sebagaimanapun kuat ototnya kalau ia tak makan pasti ia tak bisa bertahan hidup.Dan bicara soal bertarung hidup itulah, ketika melakukan perjalanan ke Jogja saya singgah ke resto Sego Simbok untuk mencari tahu keinginan perut saya.

Ada sedikit kisah sebelum saya sampai ke resto yang buka dari jam 10 pagi hingga 11 malam ini. Ceritanya hari itu saya berjalan 7 kilometer dari sebuah tempat wisata di tengah kota Jogja sampai ke tempat saya menginap. Perjalanan kaki yang sepanjang itu tentu membutuhkan istirahat. Hari sudah malam dan kaki saya sudah gempor. Perut sudah berbunyi kukuruyuk dan saya tidak ingin mencari makanan Western yang belum tentu cocok dengan perut rumah saya yang hanya ingin makan makanan rumah, sederhana, tidak perlu lama menunggu, dan suasana tempatnya tidak berisik. Karena perjalanan kaki sejauh 7 kilometer itu membutuhkan ketenangan otak dan tenaga baru untuk melanjutkan perjalanan, dan, kok ya kebetulan rute saya melewati Sego Simbok ini, maka masuklah saya ke halaman parkirnya yang luas.

Terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 50 Yogyakarta (bersebelahan dengan toko buku Gramedia di Jogja), Sego Simbok dari luar tampak mahal, elegan, dan privat. Bagaimana orang tidak berpikir demikian, wong dari luar gedungnya saja bekas gedung zaman Belanda, klasik, putih, bersih, dan masih tampak semangat ’45. Nah, dengan tampilan luar yang wow ini orang pasti berpikir makanannya mungkin makanan Jawa tapi harga “Eropa”, alias muaahal dan hanya orang-orang Jakarta yang berduit itu yang sanggup makan di sini. Tapi pikiran itu segera lenyap ketika dalam keadaan lapar tombak (lapar yang menusuk), mata saya melihat tulisan pada banner yang terpasang di halaman resto makanan Jawa ini, “Hanya 11 ribuan”, ahhh… sungguh melegakan hati! Semoga tidak menipu.

Sego Oseng Teri, Risoles, Wedang Uwuh. Tidak sampai 20 ribu rupiah!
Sego Oseng Teri, Risoles, Wedang Uwuh. Tidak sampai 20 ribu rupiah!

Dan yap, harga benar-benar tidak menipu. Karena 11 ribuan itu adalah harga paket nasi plus. Yang dimaksud dengan plus adalah tergantung pilihan kita. Bisa tempe, bisa teri, bisa telur orak-arik, bisa gorengan, rata-rata ya dimulai dari harga 11 ribuan itu. Namun kalau Klikers hendak membeli menu lain di luar harga paket pun, harganya tidak akan mahal. Saya sendiri tidak memiilh paket. Pilihan menu saya malam itu adalah, Sego Oseng Teri, atau Nasi dengan Teri Goreng yang ditumis dengan bumbu cabe hijau atau merah, bawang putih-bawang merah dan lada-garam. Karena saya pikir mungkin nasinya akan sedikit, atau saya memang ada kemungkinan lapar lagi karena lelah jalan kaki, maka saya tambahkan satu biji risoles isi sayuran dalam orderan. Minumnya Wedang Uwuh, minuman ampuh para tukang masuk angin atau telat makan. Total harga tidak sampai 20 ribuan. Astaga, ini benar-benar harga mahasiswa!

Nasinya, pulen, anget, lembut. Juara!
Nasinya, pulen, anget, lembut. Juara!

Yang bikin saya kagum adalah nasinya, juara! Pulen, hangat, lembut, enaaaakk, dan dibungkus dalam daun pisang. Nasinya ini bikin mahal harusnya, tapi kok gak ya mahal ya? Tempat bagus, pinggir jalan di jalan utama di Jogja, nasi enak bingitz, dan harga mahasiswa, waduh, apa ‘nggak rugi yang jualan?

Deretan makanan yang tersaji begitu masuk Sego Simbok.
Deretan makanan yang tersaji begitu masuk Sego Simbok.
Nasi yang dibungkus daun pisang selalu lebih enak.
Nasi yang dibungkus daun pisang selalu lebih enak.

Segera saya melihat barisan menu yang tidak hanya bisa kita lihat di daftar menu, tapi juga langsung tersaji saat kita masuk pintu utama restoran ini. Sego Oseng Tempe, Sego Bandeng Sambal, Oseng Terong , Oseng Kikil, Oseng Daun Pepaya, Oseng Pare, Oseng Pindang, Oseng Terong Balado, Semur Jengkol, Oseng Ati Ampela, Sate Ayam, Rendang Ayam, Rendang Sapi, Krecek, Ayam Goreng, dan berbagai macam snack dan gorengan seperti Pisang Goreng, Martabak, Tahu Tempe Bacem, Tempe Goreng, Bakwan Goreng, dan Risoles, dan lain-lain. Semua makanan ditata mirip dengan resto Mbah Jingkrak di daerah Setiabudi, dekat Jalan Jenderal Sudirman Jakarta yakni ditaruh dalam wadah dari tanah liat yang dialas dengan daun pisang.

Oseng Pindang.
Oseng Pindang.
Oseng Daun Pepaya.
Oseng Daun Pepaya.
Semur Jengkol.
Semur Jengkol.
Sate Ayam.
Sate Ayam.

Di belakang ruang kasir di mana semua makanan itu tersaji, ada juga ruang-ruang privat di mana kita bisa memesan untuk acara ultah, rapat dan pertemuan keluarga. Tampaknya Sego Simbok hendak meraih pelanggan mulai dari kelas mahasiswa, keluarga, sampai kelas profesional dan pengusaha. Jadi harga makan minum dibuat murah, namun sajian dan suasana sama sekali tidak murahan.

Ayam Goreng.
Ayam Goreng.
Aneka gorengan.
Aneka gorengan.

By the way, ada juga Kopi Simbok, namun… perut sudah penuh. Otak sudah tenang. Saya tidak hidup untuk makan, tapi karena makan untuk hidup. Karena itu, sesudah makan, saya harus melanjutkan kehidupan dan dengan semangat Sego Simbok, perjalanan pulang dengan berjalan kaki pun saya hadapi. Inilah kehidupan.

(Jaclyn Litaay)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *