Sejuta Berkat Saat Berziarah di Sendangsono

Salah satu tempat ziarah umat Katolik yang paling terkenal di Indonesia boleh jadi adalah Sendangsono. Tempat ini bahkan digadang-gadang sebagai Lourdes-nya Indonesia. Tempat ziarah Sendangsono ini usianya sudah mencapai 100 tahun lebih. Namun, baru tahun ini saya berkesempatan untuk mengunjunginya. Adapun Sendangsono terletak di  Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Dari pusat kota Yogyakarta, kami membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai ke lokasi peziarahan. Jalan pegunungan yang berliku dan menanjak membuat saya membatin dalam hati, “Untunglah ada bapak supir. Aku KO kalau harus nyetir di medan kayak begini!”. Saya dan kakak saya pun sempat saling mencetus, mengapa tak ada satu pun cermin cembung pengaman jalan. Agak merepotkan saat ada kendaraan lawan arah. Rasa lega pun menghampiri setelah kami melewati paroki. Tak berapa lama, bapak supir menghentikan mobil tepat di muka sebuah gang panjang. Di gang panjang itu, tampaklah deretan kios-kios penjual botol air dan benda-benda rohani.

Waktu itu, kami sampai sekitar tengah hari. Panas cukup menyengat sehingga saya harus mengerudungi kepala saya. Kami berjalan kaki melewati jalanan yang cukup menanjak. Mata saya sempat terarah pada beberapa kios makanan. Hmmm…. Saya cukup curious karena ada banyak kios makanan yang menjual menu daging babi. Tapi kemarin saya tidak kulineran di sana. Hehe…

arsitektur sendangsono yang sangat artistik
arsitektur sendangsono yang sangat artistik

Di kompleks ziarah Sendangsono ini, Anda dapat melakukan doa Jalan Salib (Via Dolorosa). Jika tidak doa Jalan Salib, ada jalan pintas langsung menuju Goa Maria. Kami melewati anak-anak tangga yang bentuknya sangat unik, yaitu berupa susunan batu berbentuk segi enam. Desain arsitektur kompleks Sendangsono ini memang sangat artistik. Saya cukup kagum saat mengetahui bahwa kompleks ziarah yang luas ini dibangun secara bertahap mengandalkan sumbangan dana dari umat. Di tahun 1991, Sendangsono mendapatkan penghargaan arsitektur terbaik untuk kategori kelompok bangunan khusus dari Ikatan Arsitek Indonesia.

Bunda Maria, Bunda segala bangsa
Bunda Maria, Bunda segala bangsa

Sesampainya di atas, saya melihat ada sekumpulan orang yang sedang berdoa di depan Goa Maria yang dipenuhi dengan rangkaian bunga. Umat Katolik mengimani bahwa Bunda Maria sebagai perantara doa akan membantu menyampaikan doa-doa kita kepada Yesus Sang Putra. Saya pun mengambil salah satu bangku plastik pendek yang tersedia dan turut mendaraskan doa. Suasana yang tenang, dengan angin yang bertiup lembut di sela-sela pepohonan rindang membuat atmosfer terasa begitu damai.

sendangsono - salib

Bukan tanpa sebab Sendangsono digadang-gadang sebagai Loudes-nya Indonesia. Di bawah kaki patung Bunda Maria terdapat relikui batu tempat penampakan Bunda Maria yang dibawa langsung dari Lourdes pada tahun 1945 oleh Pemuda Katolik Indonesia yang saat itu berziarah ke Lourdes. Dan sama seperti Lourdes, di Sendangsono pun terdapat sebuah mata air. Menurut sejarah, mata air (sendang) ini muncul di antara dua pohon sono. Terus terang, kemarin saya tidak tahu yang manakah pohon sono yang dimaksud. Air yang mengalir dari mata air ini dipercaya dapat menyembuhkan. Karena itulah tak heran banyak peziarah yang mengambil air Sendangsono. Saya pun turut menyempatkan diri untuk membasuh wajah dan meneguk airnya. Air yang mengalir dari keran-keran yang ada itu terasa begitu sejuk dan menyegarkan. Anyway, serius – saya benar-benar minum beberapa teguk dan saya sama sekali tidak sakit perut walaupun nyata-nyata airnya itu tidak dimasak.

kapel para rasul
kapel para rasul

Di dekat Goa Maria ada juga sebuah salib besar berwarna tembaga. Ada juga kapel yang saya duga sebagai tempat untuk merayakan misa. Di posisi lebih bawah, terdapat sebuah ruangan semi terbuka bernama Kapel Para Rasul. Saat itu, saya sangat tertarik ketika melihat dua wanita muslim sedang asyik foto-foto. Bagi saya, itu adalah pemandangan yang sangat indah. Senang rasanya melihat tempat ini pun dikunjungi oleh saudara-saudara dari agama lain.

deretan kios benda rohani
deretan kios benda rohani

Karena hari sudah semakin siang, kami lalu memutuskan untuk menyudahi kunjungan. Perut mulai keroncongan minta diisi makan siang. Dalam perjalanan kembali menuju parkiran, saya sempat berbelanja aneka jajanan khas jawa yang dijual oleh ibu-ibu yang membuka lapak dagangan di pinggir jalan. Ada gula aren, kerupuk cincin, jenang, dan beberapa jajanan lainnya. Lumayan untuk mengganjal perut. Namanya perempuan, langkah saya pun terhenti lagi di dekat kios-kios benda rohani. Kalung-kalung Rosario yang begitu cantik membuat saya tidak tahan untuk tak membelinya. Lumayan, sekalian untuk oleh-oleh.

Kios yang satu dengan kios yang lain sebenarnya menjual benda-benda rohani yang cukup serupa dengan harga yang sama. Beres belanja di satu kios, ibu penjual di kios sebelahnya memanggil saya, “Mbak, rosarionya Mbak? Bagi-bagi berkat, Mbak…” Ah ya… akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli beberapa rosario di 3 kios yang berbeda. Saya memang tidak bisa memborong di semua kios, namun saya berharap dengan membeli di beberapa kios yang berbeda, saya bisa sekalian bagi-bagi berkat. Saat saya berdoa, saya berdoa agar Tuhan memberkati hidup saya. Dan ya, saya sadar betul hidup saya sangat diberkati. Tak ada alasan untuk tidak membagi berkat pada sesama 🙂

(marchaela)

*all picture credit to: @marchaela_maria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *