Sop Kambing Sukowati, Maknyusss!

Suatu sore ketika perut lagi bosan makan nasi, kepala pusing, pengen yang anget-anget tapi tidak bikin kaget perut dan otak,  saya bingung mau makan apa. Kalau gejala-gejala ini datang, perut saya biasanya sulit menerima makanan sembarangan. Makanan sembarangan yang saya maksud adalah berminyak, berlemak, dan tidak berkuah.

Walau mengalami reaksi tubuh yang saya sebut di atas, saya berusaha untuk tetap mencari makan yang inspiratif. Apaan sih, cari makan aja harus inspiratif? Ya iya lah yauw! Kalau nggak inspiratif kadang-kadang ide menulis menjadi mentok tok til. Maka, sore ini, ketika pulang kantor, teman saya menawarkan apakah saya mau makan sate. Hmmm.. sate pasti ada hubungannya dengan kacang. Dan berhubung beberapa minggu saat Natal dan setelah Natal saya menerima makanan yang berhubungan dengan kacang, saya berpikir seribu kali untuk mau makan sate lagi. Kolestrolnya itu loh, no way!

Tapi kemudian, saya berpikir lagi. Warung sate biasanya  tidak hanya menjual sate saja, tapi pasti ada yang lain juga. Saya membayangkan, mungkin sop, mungkin tongseng, mungkin.. hmmm..ada pilihan lah. Jadi sepulang kantor, saya meluncur ke warung Sate Solo Sukowati yang terletak di Jalan Rawasari Selatan, Jakarta Pusat, persis berhadapan dengan Rumah Yatim. Mengapa Sate Solo ada di Jakarta? Bukan urusan saya lah ya. Yang penting perut diisi. Warung Sate Sukowati ini tidak punya nomor alamat. Jadi asal berhadapan muka dengan Rumah Yatim di Jl. Rawasari Selatan No. 28 saja, pastilah Anda akan menemukannya.

Nah dengan alasan logis, inspiratif dan higienis tadi, saya memesan Sop Kambing. Teman saya memesan Tongseng Kambing dan Sate Kambing. Saya tidak mau pakai nasi. Jadi sementara menunggu pesanan datang, saya hanya minum teh tawar panas. Tidak sampai 10 menit, sop kambing saya muncul. Bening. Tidak bersantan. Tidak berminyak. Hmmm…melihatnya saja saya merasa aman. Ini akan aman di perut dan otak saya, pikir saya.

IMG_20150114_194515

Saya suka makanan dengan rasa gurih yang cukup. Karena pesimis dengan rasa kuahnya,  saya melirik botol lada di atas meja. Tapi niat itu saya urungkan karena saya ingin mencoba “rasa asli” dari Sop Kambing dalam mangkuk yang tersedia depan mata. Maka… slurrppp! Ahhhhh….hangat. Enak di perut. Kuahnya tidak berminyak. Tenggorokan saya tidak gatal. Ada lima potong daging kambing berukuran sedang lengkap dengan tulangnya yang tersaji dalam mangkuk. Sop Kambing Sukowati dengan taburan daun bawang, daun seledri, tomat segar, dan bawang goreng yang tidak berlebihan, sungguh menggugah selera makan! Rasanya nancep di lidah. Kuahnya tidak asin. Juga tidak terlalu pedas, biasanya karena merica atau lada. Pelan-pelan saja. Menikmati kelembutan daging dan kuah sop kambing Sukowati ini tak perlu terburu-buru.

Anda harus mencoba sendiri sebelum berpikir saya membual tentang rasanya. Hahaha… Tapi beneran lho, kuahnya pas sekali dengan ukuran enak. Tidak berlebihan. Sayur-sayurannya juga segar dan tidak kering. Dan yang terpenting, daging kambingnya juga lembut sekali! Saya tidak harus menggigit dengan usaha maksimal. Cukup menarik sedikit dengan gigi dan slep!, daging kambing yang terobek lembut itu dapat Anda telan masuk dalam tenggorokan Anda dengan slow motion. Nikmati saja tekstur lembutnya. Menenangkan, memang. Saya yakin itu daging kambing muda.

Sop Kambing Sukowati. Nyaris tak ada minyak kan?
Sop Kambing Sukowati. Nyaris tak ada minyak kan?

Sementara menikmati Sop Kambing, pelayan datang membawa Sate Kambing. Jujur saja, sebelum melihat bentuknya, saya pesimis dengan wajah Sate Kambing Sukowati yang akan dihidangkan di atas meja. Dalam benak kemungkinan 90% berminyak, banyak sekali saus kacang, satenya banyak lemaknya, gosong, dan ah sudahlah tak berselera menganalisanya lagi.

Sate Kambing Sukowati.  Di balik saus kacang itu tak ada lemak sama sekali.
Sate Kambing Sukowati. Di balik saus kacang itu tak ada lemak sama sekali.

Tapi tidak! Yang tersedia di meja adalah satu porsi sate kambing 10 tusuk dengan ukuran yang tidak besar sekali (seperti porsi kuli). Satu tusuk terdiri dari 4-5 potongan daging kambing yang semuanya daging! Tak ada lemak satupun! (Haihh, menulisnya jadi pakai tanda seru semua ini ya?!..) Nyam! Saya coba satu tusuk. Semua dagingnya lembut. Dengan saus kacang yang sudah disirami kecap manis, satu demi satu potongan, saya gigit. Tidak ada yang keras. Tidak gosong sama sekali. Saus kacangnya pun tidak berlebihan. Dan saus kacangnya halus. Saya kok tidak merasa ada gilingan kacang tanah yang masih kasar. Sate Kambing Sukowati ini disajikan dengan irisan bawang merah segar, potongan cabe rawit hijau dan merah, dan tomat merah segar. Sekali lagi saya yakin semua dagingnya adalah daging kambing muda pilihan. Biasanya kualitas sate seperti ini Anda temukan di restoran-restoran hotel bintang lima. Dan tidak semua resto mahal punya sate kambing yang enak. Saya penasaran apakah satenya dipanggang di oven. Ternyata tidak. Penjualnya masih memakai arang untuk membakar daging sate.

Penjual masih menggunakan arang untuk membakar daging sate.
Penjual masih menggunakan arang untuk membakar daging sate.

Ah kalau makan Sop Kambing atau Sate Kambingnya begini ‘kan saya tidak khawatir tentang kolestrol, batuk, dan pusing-pusing. Apalagi porsi seperti ini juga cukup untuk anak-anak. Sate Solo Sukowati tidak hanya menjual sate kambing, sop kambing, dan tongseng kambing. Ada juga sate ayam, tengkleng, gulai kambing, sate ayam, ayam bakar dan goreng. Satu porsi Sop Kambing dan Tongseng Kambing masing-masing seharga 20 ribu rupiah. Sate Kambing 35 ribu rupiah. Teh Tawarnya hanya 1000 rupiah. Tak terlalu mahal ‘kan?!. Kalau Anda ingin makan enak tapi sehat, sehat di tenggorokan, sehat di kantong, singgahlah ke Sate Solo Sukowati. Amanlah!

(Jaclyn Litaay)

 

Facebook Comment

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Nikmatnya 10 Kuliner khas Malang Ini

Malang tak hanya terkenal dengan buah apel dan keripik malangnya. Kota yang terletak di Jawa Timur dan memiliki hawa sejuk...

Close