Tiga Lokasi Wisata Rohani di Indonesia yang Memperkuat Toleransi Beragama

Toleransi beragama kini sedang menjadi sorotan berbagai pihak. Beberapa pihak yang merasa minoritas menganggap masyarakat mayoritas tidak bisa bertoleransi dengan baik. Sebaliknya pihak mayoritas menganggap mereka yang minoritas tidak mampu menghargai dan sengaja ingin memecah kerukunan umat beragama. Perang sosial media kerap terjadi, kata-kata kasar dan saling hujat begitu mudah ditemukan. Sahabat yang dulu akrab pun bisa seketika saling unfriend dan unfollow hanya karena perbedaan pilihan dan sikap. Apakah sedemikian parahnya keadaan kehidupan beragama di Indonesia saat ini? Daripada ikut dalam arus saling gontok-gontokan, mending kita berkunjung ke tiga lokasi wisata rohani di Indonesia berikut ini yang bisa menjadi inspirasi bahwasanya toleransi beragama masih bisa ditemukan di negeri tercinta ini.

1. Panca Puja Mandala di Bali

Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua, Bali
Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. Sumber foto: http://travellifelove.blogspot.co.id

Pura Jagatnatha
Pura Jagatnatha. Sumber foto: http://www.panoramio.com/photo/3109834

Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua
Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua. Sumber foto: http://weproud-id.blogspot.co.id

Gereja Katholik, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa
Gereja Katholik, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Sumber foto: https://commons.wikimedia.org

Vihara Buddha Guna
Vihara Buddha Guna. Sumber foto: http://viharabuddhagunabali.blogspot.co.id

Masjid Agung Ibnu Batutah
Masjid Agung Ibnu Batutah. Sumber foto: http://www.masjidibnubatutahbali.com

Terletak di daerah Nusa Dua Bali, tempat wisata rohani ini membuat semua orang yang mampir berdecak kagum. Jika biasanya kita melihat tempat ibadah satu agama dengan agama lain terpisah tempat, di sini kita bisa melihat lima tempat ibadah dalam satu lokasi. Ada masjid Ibnu Batutah, Gereja Katholik Bunda Maria Segala Bangsa, Gereja Kristen Protestan Bukit Doa, Wihara Budhina Guna dan Pura Jagat Nata.

Ide dibangunnya Panca Puja Mandala ini berasal dari PT. Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Tempat ibadah yang pertama kali dibangun adalah Masjid Ibnu Batutah. Masjid ini dibangun karena keprihatinan masyarakat Nusa Dua Bali akan susahnya mencari tempat ibadah bagi orang muslim. Akhirnya setelah masjid ini terbangun, dengan mendapat bantuan hibah tanah dari PT BTDC, dibangunlah empat tempat ibadah lainnya pada tahun 1994.

Ternyata respon masyarakat sangat bagus dan semakin berkembang menjadi wisata rohani di Indonesia yang cukup termahsyur. Panca Puja Mandala di Bali menjadi simbol Bhinneka Tunggal Ika masih ada dan hidup di pulau Dewata ini. Tidak ada pertikaian antara umat agama di lokasi ini, bahkan yang ada mereka saling membantu dan menjaga satu sama lain.

2. Bukit Kasih Kanonang di Minahasa

Pemandangan Bukit Kasih dari atas gunung
Pemandangan Bukit Kasih dari atas gunung. Sumber foto: http://www.panoramio.com/photo/76824819

Bukit Kasih di Minahasa, Sulut, ini memiliki 2.432 anak tangga yang harus ditaklukkan para wisatawan
Bukit Kasih di Minahasa, Sulut, ini memiliki 2.432 anak tangga yang harus ditaklukkan para wisatawan. Sumber foto: https://commons.wikimedia.org

Suasana Bukit Kasih
Suasana Bukit Kasih. Sumber foto: http://karyabesa.com

Tugu Toleransi Bukit Kasih
Tugu Toleransi Bukit Kasih. Sumber foto: http://flowerslane.com

Terletak di Jl. Kawangkoan-Kanonang, Kanonang Empat, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Sekitar 55 meter dari kota Manado. Bukit Kasih Kanonang menantang kita untuk menjadi pribadi yang berani menghargai segala perbedaan, baik itu ras, agama, sikap dan warna kulit. Bukit ini dibangun pada tahun 2002 dengan luas kurang lebih 4 hektar. Di puncak bukit ini kita akan menemukan berbagai macam tempat ibadah dari lima agama yang diakui di negeri ini. Untuk mencapai puncak bukit, kita harus melalui 2432 anak tangga dengan hamparan pemandangan yang begitu indah dan rimbun.

Kesejukan lokasi akan ikut menyejukkan hati kita sehingga tidak ada lagi rasa untuk saling bertikai hanya karena masalah agama. Selain kita temukan lima tempat ibadah dari agama-agama yang berbeda, kita juga akan menemukan tugu kasih menjulang setinggi 20 meter di puncak bukit. Di pinggiran tugu ini tertulis beberapa penggalan tentang cinta kasih yang diambil dari berbagai kitab suci.

Selain anak tangga yang bikin ngos-ngosan, lima tempat ibadah dalam satu lokasi, dan tugu kasih, kita bisa menikmati kawah belerang sembari berjalan di anak tangga. Sesekali boleh lah kita berhenti sejenak sambil menyantap bekal yang kita bawa dan menikmati pemandangan alam yang indah. Jika nggak sempat membawa bekal, jangan khawatir ada banyak yang jual jajanan kok, dari jagung rebus, ubi dan pisang. Di sini kita juga bisa melihat patung dua orang sosok manusia yang diibaratkan sebagai nenek moyang masyarakat Minahasa.

Ketika lelah sudah tidak lagi dibendung, kita bisa menikmati pijat kaki dan berendam air panas untuk mendapatkan tenaga kembali sebelum turun ke bawah. Gimana Klikers, berani nggak menaiki 2432 tangga tersebut?

3. Taman Wisata Iman Sitinjo

Gerbang Taman Wisata Iman Sitinjo
Gerbang Taman Wisata Iman Sitinjo. Sumber foto: https://vinikidivici.wordpress.com

Titik pusat taman adalah sebuah patung kapal besar
Titik pusat taman adalah sebuah patung kapal besar. Sumber foto: https://travel-to-parks.ru

Gereja Kristen
Gereja Kristen. Sumber foto: https://travel-to-parks.ru

Suasana gambaran bukit Golgota
Suasana gambaran bukit Golgota. Sumber foto: https://travel-to-parks.ru

Kuil Bali
Pura Bali. Sumber foto: https://travel-to-parks.ru

Masjid
Masjid. Sumber foto: https://vinikidivici.wordpress.com

Kuil Tibet
Kuil Tibet. Sumber foto: https://travel-to-parks.ru

Tempat wisata rohani di Indonesia terakhir yang bisa menguatkan semangat bertoleransi agama yaitu Taman Wisata Iman Sitinjo. Taman yang dibangun sebagai wahana belajar tentang adanya perbedaan agama ini didirikan di Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Terletak di perbukitan dengan pemandangan hijau yang indah dan sejuk diharapkan akan menciptakan rasa cinta kasih dan saling menghormati perbedaan iman yang ada antar sesama.

Taman Iman Sitinjo ini tidak sekedar menjadi tempat berdirinya tempat-tempat ibadah dari lima agama yang diakui di Indonesia, namun juga menampilkan kisah-kisah sejarah dari lima agama tersebut. Bisa dikatakan di taman ini kita bisa menyaksikan perjalanan iman tiap agama di Indonesia yang tidak harus saling diperdebatkan.

Luas taman ini sekitar 130.000 meter persegi dengan banyak anak tangga. Kurang lebih kita membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk tuntas mengitari lokasi ini. Meski agama Nasrani nampak lebih mendominasi di taman ini dikarenakan merupakan agama mayoritas dari penduduk Sitinjo, namun di sini kita juga akan menemukan masjid yang berdiri cukup megah.

Berikut ini beberapa hal yang bisa kita kunjungi di taman iman; lapangan manasik haji, Patung Abraham, Patung nabi Musa, Gereja Oikumene, Goa Bunda Maria dan Perahu nabi Nuh yang fenomenal. Tak ketinggalan ada pula kuil Hindu serta Vihara Saddahavadana lengkap dengan patung Budha Rupang.

Tiga lokasi wisata rohani di Indonesia tersebut menjadi cerminan bahwa kebhinnekaan di Indonesia masih tetap terjaga. Masalah iman adalah urusan Tuhan dan masing-masing manusia, bukan sebuah wilayah yang bisa dicampuri oleh orang lain. Kita juga tidak bisa mengklaim diri kita yang paling benar dan paling beriman, karena semua itu hanya Tuhan yang tahu.

Setiap orang yang mengimani agama tertentu pasti meyakini agamanya yang paling baik, maka tidak perlu saling memperdebatkan hal tersebut. Kita hanya perlu menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Karena jika hidup hanya ada satu warna maka tidak akan kelihatan indah, dengan adanya berbagai corak hidup baru terlihat menarik. Selamat berwisata.