Murah Meriah Makan di Warung Teh Ita Punclut

Buat mereka yang tinggal di kota besar yang sudah dipenuhi polusi, berwisata ke daerah pegunungan akan selalu menjadi ide yang menyenangkan. Dengan alasan itulah, hari Minggu kemarin, saya dan teman-teman berwisata ke daerah Punclut. Punclut ini terletak di Bandung Utara di kawasan Ciumbuleuit. Karena itulah disebut Punclut atau Puncak Ciumbuleuit. Nah, daerah Punclut ini hawanya sangat sejuk – maklumlah di daerah pegunungan. Tak heran bila Punclut pun menjadi salah satu destinasi untuk berolaharaga jalan kaki. Dan, sebagaimana ada gula ada semut,  pastilah ada banyak tempat kulineran di tempat yang sering dikunjungi orang. Salah satu tempat kulineran yang bisa kunjungi di Punclut adalah Warung Teh Ita.

Anda tinggal pilih mau makan apa
Anda tinggal pilih mau makan apa

Actually, sebenarnya awalnya kami sama sekali tak ada rencana untuk bersantap di Warung Teh Ita. Tujuan kami adalah Lereng Anteng yang lagi nge-hits. Tapi, saat kami melewati warung makan yang berjajar , kami jadi kabita. Pemandangan jambal roti dan harumnya ayam bakar membuat kami seketika memutuskan, “Ayo, kita makan di sini dulu!” Ada dua warung makan yang terkenal di Punclut ini, yaitu Sangkan Hurip dan Teh Ita. Tak tanggung-tanggung, kedua warung makan ini masing-masing memiliki cabang yang berjarak hanya beberapa puluh meter saja. Uniknya, Anda hanya bisa memarkir kendaraan Anda di halaman parkir warung makan yang bersangkutan. Seperti kemarin, kami sebenarnya hendak bersantap di Sangkan Hurip, tapi kami parkir di depan Warung Teh Ita 2. Bapak tukang parkir yang lalu tahu bahwa kami hendak makan di Sangkan Hurip meminta kami untuk pindah tempat parkir. Karena dipikir-pikir ribet lagi, ya sudah kami pun memilih masuk ke dalam warung Teh Ita.

Warung Teh Ita ini menyajikan aneka menu khas rumah makan sunda. Warungnya berkonsep lesehan. Dapurnya ada di bagian depan warung. Tak heran bila wangi ayam goreng semerbak hingga ke jalanan dan memikat mereka yang lewat, ya! Anda bisa memilih mau menyantap lauk apa saja. Pilihannya banyak banget, mulai dari ayam goreng, ayam bakar, sate telur puyuh, tahu, tempe, ikan asin jambal roti, ikan bakar, bakwan jagung, dan lain-lain. Anda tinggal pilih lalu lauk pesanan Anda akan digoreng dadakan (Ck ck ck… memangnya tahu bulat? #eh).  Kemarin, saya memilih sepotong ayam bakar dan sate telur puyuh untuk lauk makan siang saya. Saya sengaja tak pesan banyak-banyak karena sudah ada destinasi kuliner berikutnya.

pemandangan dari Warung Teh Ita
pemandangan dari Warung Teh Ita

Sambil menunggu pesanan kami digoreng matang, kami duduk-duduk sembari menikmati pemandangan hijau Punclut. Terus terang kami sempat terganggu dengan para pengamen yang bolak-balik berdatangan. Tapi ya tak apalah, namanya juga orang cari rejeki. Walaupun cukup banyak tamu di Minggu itu, namun kami tak perlu menunggu pesanan kami tiba terlalu lama.

Warung Teh Ita
Warung Teh Ita

Nasi yang disajikan di Warung Teh Ita ini adalah nasi merah bercampur nasi hitam. Nasi merah dan nasi hitam ini lebih sehat daripada nasi putih biasa karena kandungan seratnya lebih tinggi dan kadar gulanya lebih rendah, lho! Ukuran satu porsi nasi di Warung Teh Ita ini cukup besar. Untuk perempuan satu porsi bisa berdua. Lebih baik pesan sedikit dulu, tho? Daripada pesan banyak-banyak lalu malah tidak habis dan dibuang. Kasihan, masih banyak yang belum seberuntung kita bisa makan setiap hari 🙂 . Nasi di Warung Teh Ita inj disajikan dengan lalapan selada dan leunca, dan tentu saja tak ketinggalan sambal yang mantap rasanya!

murah meriah makan di Warung Teh Ita
murah meriah makan di Warung Teh Ita

Inilah yang namanya makan murah meriah. Sambil lesehan, makan langsung pakai tangan menyantap nasi hangat yang pulen dengan ayam bakar dan sambal. Wuih, sedap! Aneka lauk di Warung Teh Ita ini memang nikmat rasanya. Nggak heran bila teman saya sampai berkali-kali nambah. Hahaha… Murah, enak, dan harganya pun murah! Ayam bakar pesanan saya hanyalah seharga Rp 18.000,00. Sate telur puyuh per tusuknya hanya Rp 2.000,00. Total saya hanya menghabiskan Rp 25.000,00 (seporsi nasi seharga Rp 7.000, tapi saya sharing dengan teman). Jika makan di café, Rp 25.000 mungkin hanya bisa untuk beli minuman. Lol.

Oh ya, bagian paling seru dari wisata kuliner di Punclut ini adalah banyak warung yang buka 24 jam lho! Saya kurang tahu apakah Warung Teh Ita ini termasuk yang buka 24 jam (lupa nanya, hehehe…). Info yang saya dapat dari Mbah Google sih Warung Teh Ita ini buka 24 jam di akhir pekan. Hmm, emang ada ya yang makan tengah malam? Oh, ada dong pastinya! Di malam hari, pemandangan kerlip kota Bandung dan langit malam berbintang sangatlah spektakuler dan romantis. Asyik! Anda yang kuliner tengah malam di Punclut, jangan lupa bawa baju hangat, ya!

 

@marchaela_maria 

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *