Wisata Petualangan: Mengunjungi 5 Suku Pedalaman di Indonesia

Meski modernisasi dan globalisasi sudah mendera keras Indonesia, nyatanya budaya nusantara tidak turut tergerus. Berbagai suku pedalaman di Indonesia bahkan masih menjunjung tinggi nilai adat istiadat budayanya, sama sekali tak terpengaruh dengan pengaruh zaman.

Anda yang gemar berwisata, cobalah membuat pengalaman baru. Anda bisa melakukan perjalanan wisata petualangan dengan mengunjungi lima suku pedalaman di Indonesia yang menarik berikut ini.

1. Suku Baduy

Alam Baduy
Alam Baduy. Sumber foto: https://www.goodnewsfromindonesia.id

Rumah adat suku Baduy
Rumah adat suku Baduy. Sumber foto: rumahadatdiindonesia.blogspot.com

Suku Baduy
Suku Baduy. Sumber foto: kidnesia.com

Suku pedalaman di Indonesia yang pertama berasal dari Pulau Jawa, khususnya tanah Sunda. Suku Baduy merupakan suku asli nusantara yang berada di daerah Kabupaten Lebak, Banten. Jumlah populasi suku ini berkisar antara 5.000 hingga 8.000 orang. Meski jumlahnya cukup besar, jangan harap Anda akan mudah menemukannya, sekalipun menggunakan teknologi internet. Pasalnya, suku ini sangat mengisolasi diri dari dunia luar—termasuk anggapan bahwa difoto merupakan hal yang sangat tabu.

Saking menutup dirinya, Urang Kanekes—sebutan untuk anggota Suku Baduy—bahkan tidak pergi ke sekolah. Menurut mereka, pendidikan formal adalah hal yang teramat berlawanan dengan adat istiadat yang sudah dijalani selama puluhan hingga ratusan dekade. Sejak era Presiden Soeharto, mereka sangat menentang kebijakan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa. Sebagai dampaknya, tentu saja sebagian besar masyarakat Baduy masih buta aksara.

Satu-satunya cara untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat ini, Anda dapat mengunjungi Kampung Wisata Suku Baduy. Lokasinya berada di Desa Cibeo, sekitar 40 km dari Rangkasbitung. Selain mengenal masyarakatnya, Anda juga bisa menikmati alamnya yang masih sangat asri.

2. Suku Mentawai

Alam Mentawai
Alam Mentawai. Sumber foto: www.pesonaindo.com

Rumah adat suku Mentawai
Rumah adat suku Mentawai. Sumber foto: http://news.okezone.com

Busana suku Mentawai
Busana suku Mentawai. Sumber foto: https://jejesicaa.wordpress.com

Mentawai selama ini dikenal sebagai sebuah kepulauan yang eksotis dan cantik. Kepulauan ini diperkirakan sudah ada sejak ratusan ribu tahum silam, tetapi hingga kini belum juga ditemukan bukti atau sekadar penunjuk yang menyebutkan kapan orang pertama benar-benar tiba di Mentawai.

Hanya sebagian kecil masyarakat suku Mentawai yang telah memeluk agama Islam dan Kristen, sementara sisanya masih didominasi dengan kepercayaan animism dan dinamisme. Bahkan awalnya, mereka menganut paham Sabulungan yang memercayai segala sesuatunya—hingga benda mati sekalipun—memiliki ruh yang berkeliaran sebebasnya. Karena itulah ketika memiliki rumah baru atau melangsungkan pernikahan, mereka biasanya menyelenggarakan upacara tradisional yang bertujuan untuk mengusir ruh-ruh jahat.

Jika berkunjung ke Mentawai, jangan lupa untuk sekaligus menyaksikan langsung kebudayaan dan kehidupan suku Mentawai. Anda bis mengunjungi beberapa desa seperti Desa Matotonan, Desa Madobak, dan Desai Ugai. Akan tetapi, Anda harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebab perjalanan tidak akan mudah. Anda akan melewati sungai yang panjang dan jalan berliku yang menempuh waktu selama 7-8 jam.

3. Suku Dani

Alam dan rumah adat suku Dani
Alam dan rumah adat suku Dani. Sumber foto: alampedia.blogspot.com

Budaya potong jari
Budaya potong jari. Sumber foto: http://vevnews.blogspot.co.id

Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.(Foto: BARRY KUSUMA)
Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.(Foto: BARRY KUSUMA). Sumber foto: http://travel.kompas.com

Papua tidak hanya menyimpan Raja Ampat sebagai kekayaannya. Nilai-nilai kebudayaan di tanah Papua juga sama kayanya. Bagi Anda yang berkunjung ke Papua, cobalah untuk mengenal lebih dekat suku aslinya, suku Dani. Suku Dani merupakan satu dari sekan banyak suku yang mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya dan sebagian Puncak Jaya.

Suku Dani masih sangat menghormati roh nenek moyang yang berpusat pada pesta babi. Mereka sangat percaya pada kekuatan sakti para nenek moyang. Selain itu, salah satu adat yang paling terkenal dan menarik dari suku ini adalah tradisi potong jari. Tradsi ini dilakukan sebagai lambang kesedihan saat kehilangan anggota keluarga yang meninggal.

Di samping itu, Anda juga bisa datang ketika Festival Lembah Baliem Wamena diselenggarakan pada bulan Agustus setiap tahun. Festival ini sudah sejak lama diselenggarakan dan menarik banyak minat wisatawan—termasuk wisatawan asing. Diadakan di jantung Bukit Baliem, Wamena, festival menyuguhkan acara perang antarsuku: suku Dani, suku Yali, dan suku Lani. Tujuan festival yang melambangkan kesuburan dan kesejahteraan ini pun adalah untuk  unjuk kekuatan antarsuku.

4. Suku Bajo, Buton

Alam dan Perairan Bajo, Buton
Alam dan Perairan Bajo, Buton. Sumber foto: http://www.indonesia-tourism.com

anak suku bajo waole
anak suku bajo waole. Sumber foto: http://baubautraveler.blogspot.co.id

orang tua suku bajo waole
orang tua suku bajo waole. Sumber foto: http://baubautraveler.blogspot.co.id

Kegiatan menangkap ikan suku Bajo
Kegiatan menangkap ikan suku Bajo. Sumber foto: asik.in

Suku ini dikenal sebagai suku primitif lantaran menghabiskan sepanjang usianya di laut. Tak heran jika mereka juga kerap disebut sebagai manusia laut. Sebagai tempat tinggal,  mereka mendirikan perkampungan yang dibangun di atas laut seperti rumah apung.

Kendati primitif, penduduk suku Bajo tidak lantas meninggalkan ilmu pengetahuan dan tinggal di lingkungan kumuh. Mereka juga memiliki sekolah dan ibadah. Anda pun bahkan tidak akan mencium bau amis yang kerap ditemui di mayoritas perkampungan nelayan yang modern sekalipun. Air lautnya juga sangat bersih dan jernih.

Anda bisa mencoba menginap di perkampungan ini untuk mengenal mereka lebih dekat. Anda akan belajar banyak hal tentang keseharian mereka, termasuk berlayar dan menangkap ikan di tengah laut.

5. Suku Dayak

Tari Perang Dayak di Perbatasan
Tari Perang Dayak di Perbatasan. Sumber foto: http://www.antarafoto.com

Suku dan Busana adat Ngaju
Suku dan Busana adat Ngaju. Sumber foto: pinterest.com

Suku Dusun Ma’anyan
Suku Dusun Ma’anyan. Sumber foto: Pinterest.com

Rumah tradisional Dayak atau betang
Rumah tradisional Dayak atau betang. Sumber foto: http://travel.kompas.com

Terakhir, Anda bisa mengunjungi Suku Dayak yang terkenal. Berada di kawasan Kalimantan Tengah dengan kekayaan alam yang melimpah, Anda bisa menemukan tiga etnis Dayak: Ngaju, Dusun Ma’anyan, dan Ot Danum. Masing-masing suku ini memiliki keunikan berbeda.

Pertama, suku Ngaju. Boleh dibilang, suku ini lebih populer dibandingkan dua suku lainnya. Suku Ngaju memiliki kebudayaan seni yang cukup tinggi dan diwujudkan dalam rupa seperti memorial, kuburan panggung, dan peti kayu. Anda bisa menemui orang-orang Ngaju di wilayah Sungai Kapuas.

Selanjutnya, Dusun Ma’anyan. Kebudayaannya yang terkenal berkaitan roh dan pemujaan. Mereka menyelenggarakan upacara kematian yang cukup kompleks. Di samping itu, Anda akan mudah menemukan makam-makam yang berjejer dan disesuaikan dengan tingkat sosialnya dalam masyarakat.

Terkhir, kebudayaan suku Ot Danum bisa Anda jumpai melalui rumah adat yang tinggi. Jangan heran apabila satu ‘rumah betang’ ini dihuni oleh banyak orang sekaligus. Pasalnya, rumah ini berdiri sekitar 2,5 meter di atas permukaan tanah dan memiliki kamar hingga 50.

Itulah beberapa suku pedalaman di Indonesia yang menarik dan wajib untuk dilestarikan. Ciptakan pengalaman berwisata yang menantang sekaligus berkesan dengan mengenal kebudayaan nusantara lebih dekat. Selamat berwisata!